Mobil sewaan Satria berhenti di halaman luas berkerikil di depan rumah tua berarsitektur Jawa limasan itu.
Pekarangannya dikelilingi pepohonan buah dan deretan pot tanaman yang tertata rapi.
Asap tipis mengepul dari cerobong dapur samping. Rumah itu masih berpenghuni.
Satria mematikan mesin. Namun ia tidak langsung turun. Tangannya masih menggenggam kemudi. Pandangan matanya terpaku pada pintu depan.
Dua tahun lalu, ia datang ke rumah ini ketika Nenek meninggal. Hanya sebentar. Melayat. Mengaji. Kemudian kembali ke Jakarta.
Sementara Bapak memilih tinggal lebih lama. Empat puluh hari. Entah untuk apa. Satria dulu tidak pernah benar-benar bertanya.
Ia membuka pintu mobil.
Begitu sepatunya menginjak tanah basah, aroma tanah dan dedaunan langsung memenuhi hidung.
Satria berhenti. Aroma itu. Masih sama.
Ia menunduk melihat pasir yang menempel di sol sepatu. Dulu ia paling benci membawa pasir masuk ke rumah.
Satria tersenyum kecil. "Masih aja."
Ia mengusap sol sepatunya ke tanah sebelum melangkah.
Beberapa meter di samping rumah, seorang pria tua berdiri di dekat deretan pot tanaman. Tangannya memegang pisau okulasi berbilah tipis. Ia sedang memperhatikan sebuah tanaman yang baru saja disambung.
Satria berhenti. Dadanya tiba-tiba terasa penuh.
Bapak.
Pak Husni seolah merasakan kehadiran seseorang. Ia menoleh. Tatapan mereka bertemu. Pria tua itu membeku.
"Satria...?"
Satria juga tidak langsung menjawab.
"Iya, Pak."
Pak Husni masih menatapnya. Seolah sedang memastikan bahwa lelaki di depannya bukan sekadar bayangan yang muncul karena terlalu lama menunggu.
"Kowe teko..."
"Iya."
"Kowe... teko."
Satria tersenyum kecil.
"Iya, Pak."
Pak Husni mengusap wajahnya.
Matanya berkaca-kaca.
Satria tidak tahu harus melakukan apa.
Ia ingin memeluk Bapak. Tetapi tubuhnya seperti lupa caranya.
Dulu, kapan terakhir kali ia memeluk ayahnya?
Satria bahkan tidak ingat. Akhirnya ia melangkah maju.
Tangannya menyentuh lengan Pak Husni. "Pak..."
Pak Husni menunduk. Air mata jatuh di pipinya.
Satria langsung menarik tubuh ayahnya ke dalam pelukan. "Iya, Pak."
Pak Husni diam.
Tangannya sempat menggantung beberapa detik sebelum akhirnya menepuk punggung Satria pelan.
Satu kali. Dua kali.
Satria memejamkan mata.
Aku datang, Pak.
Kali ini aku gak terlambat.
Pelukan itu tidak berlangsung lama.
Pak Husni perlahan melepaskan diri. "Udah."
Satria mengusap sudut matanya. "Iya."
"Ngapain nangis?"
Satria terkekeh kecil. "Bapak juga nangis."
Pak Husni langsung mengusap pipinya. "Karena debu ini."
Satria tertawa. "Debu dari mana?"
"Yo... debu."
Untuk pertama kalinya sejak datang, Satria merasa sedikit lebih ringan.
Ia menunjuk rumah. "Ayo masuk, Pak. Wis sore."
Pak Husni menggeleng. "Aku sek kate nang kene."
"Ngapain?"
Pak Husni menunjuk tanaman di depannya. "Ini durung rampung."
Satria melihat tanaman itu. "Tanaman lagi?"
"Yo."
"Bapak kalau tanaman terus..."
Pak Husni menoleh. "Kenopo?"
Satria hendak menjawab, tetapi mengurungkan niat. Ia hanya menggeleng. "Gak apa-apa."
Pak Husni tersenyum tipis. "Nomor siji, mungkin iya." Ia berhenti sejenak.
"Tapi sing liyane gak tak lali."
Satria menatap ayahnya. "Apa?"
Pak Husni tidak menjawab.
Ia malah menunjuk rumah. "Masuk."
Satria menghela napas. "Iya."
Pak Husni kemudian berkata, "Ana singkong goreng."
Satria menoleh. "Kesukaan Satria?"
Pak Husni mengangguk. "Bu Ratri sing nggawe." "Bu Ratri masih di sini?"
"Iyo."
"Pak Hendra?"
"Iyo."
Satria mengangguk.
"Wah, lengkap."