Pagi itu, mobil Satria membelah jalanan menanjak kawasan perbukitan Nongkojajar menuju rumah sakit di daerah Purwodadi.
Udara dingin memenuhi kabin. Namun suasana di dalam mobil justru terasa panas.
"Lapo gak balik Malang ae, Pak?" Satria melirik ayahnya sebentar.
"Kalau tinggal di Malang kan lebih dekat rumah sakit. Gak perlu jauh-jauh begini."
Pak Husni bersedekap. "Wis tak jawab bola-bali." Ia menatap lurus ke depan. "Aku karepe nang kene."
Satria menghela napas. "Bapak ini..."
"Keno opo?"
"Ya gak apa-apa."
Beberapa saat mereka kembali diam.
Satria memusatkan perhatian pada jalan. Kabut pagi masih menggantung di antara pepohonan. Beberapa kendaraan berjalan pelan di depan mereka.
Pak Husni tiba-tiba menunjuk sebuah warung kecil di pinggir jalan.
"Berhenti."
Satria mengurangi kecepatan.
"Kenapa?"
"Wedang."
Satria menoleh.
"Baru berangkat, Pak."
"Yo terus?"
"Kita sudah hampir telat."
Pak Husni mengerutkan dahi. "Rumah sakit gak bakal mlayu."
Satria hampir tertawa. "Bapak bisa aja."
Ia tetap melajukan mobil.
Pak Husni mendengus. "Anak Jakarta."
Satria tersenyum. "Apa hubungannya?"
"Semua kudu cepet."
Satria diam.
Kalimat sederhana itu justru membuatnya berpikir.
Bapak benar. Selama ini semuanya harus cepat.
Kuliah. Kerja. Naik jabatan. Pindah Jakarta. Mengejar klien. Mengejar deadline. Bahkan pulang pun selalu terasa seperti sesuatu yang harus diselipkan di antara kesibukan lain.
Sementara Bapak tidak pernah terlihat terburu-buru. Bapak bisa berhenti hanya untuk memperhatikan satu daun. Satu tunas. Satu sambungan batang.
Mungkin itu yang dulu paling tidak ia pahami.
"Pak."
"Hm?"
"Kalau Bapak memang betah di sini... kenapa gak tinggal di Malang saja waktu itu?"
Pak Husni diam. "Lebih dekat sama Ibu juga."
"Ngapain?"
"Sama keluarga."
Pak Husni menatap keluar jendela. "Kadang keluarga yo gak selalu berarti tinggal serumah."
Satria terdiam.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Pak Husni melanjutkan, "Yang penting masih iso ketemu."
Kalimat itu terdengar biasa. Namun entah kenapa Satria merasa seperti sedang ditegur.
Ia menelan ludah. "Kalau Satria dulu sering datang, Bapak senang?"
Pak Husni menoleh. "Ya."
"Cuma itu?"
"Terus harus ngomong opo?"
Satria tertawa kecil. "Bapak susah banget diajak ngobrol."
"Awakmu sing kebanyakan takon."
Satria ikut tertawa.
Untuk beberapa saat, suasana mobil terasa lebih ringan. Namun ketika jalan kembali menanjak, Pak Husni mulai memegang lututnya.
Gerakannya kecil.
Tetapi Satria melihat.
"Bapak sakit?"
"Ndak."
"Sakit?"
"Ndak."
Satria memperlambat mobil.
"Bapak kalau sakit bilang."
"Ndak."
Satria menatapnya sekilas. "Bener?"
"Iyo."
Satria menghela napas. "Kalau sakit banget mau pakai kursi roda?"
Pak Husni langsung mendelik.