Cicit-ciutan burung pipit di dahan pohon jeruk membangunkan Satria pagi itu.
Udara dingin khas perbukitan masih menyelimuti rumah tua Mbah Wasih. Kabut tipis menggantung di luar jendela, sementara angin masuk melalui celah-celah kayu yang sudah tua.
Satria membuka mata perlahan.
Tidak ada suara alarm. Tidak ada notifikasi pekerjaan. Tidak ada bayangan presentasi atau berkas klien yang harus diselesaikan sebelum pukul sembilan pagi.
Ia hanya duduk di tepi dipan dan mengusap wajah.
Untuk beberapa saat, Satria lupa bahwa ia sedang berada di mana. Kemudian pandangannya berkeliling.
Dipan kayu jati.
Lemari dua pintu.
Kursi di sudut kamar.
Semuanya masih sama.
Bahkan letaknya hampir tidak berubah sejak terakhir kali ia datang ketika masih kecil.
Satria berdiri.
Ia membuka pintu kamar perlahan, lalu berjalan menuju kamar mandi.
Ubin semen yang dingin langsung membuat telapak kakinya menggigil.
Gentong tembikar tua masih berada di sudut kamar mandi. Gayung tempurung kelapa tergantung di sampingnya.
Satria tersenyum tipis. "Masih ada..."
Ia tidak tahu kenapa kalimat sederhana itu membuat dadanya terasa hangat.
Setelah selesai mandi, Satria berjalan menuju dapur. Begitu sampai di sana, langkahnya melambat.
Ia ingat ruangan ini.
Dulu, ia sering berlari keluar-masuk dapur karena Ibu hampir selalu berada di sini ketika mereka berkunjung.
Membantu Mbah Wasih memasak.
Mengiris sayuran.
Meracik jamu.
Namun ingatan itu tidak bertahan lama.
Satria tiba-tiba teringat wajah Ibu pada sore yang dulu.
Pisau yang berhenti di atas talenan.
Pintu kamar yang tertutup.
Suara Nenek yang masih terngiang di kepalanya.
Kepalanya mendadak terasa berat. Satria memegang pelipis. Ia menarik kursi kayu di dekat meja makan lalu duduk.
Menarik napas.
Sekali.
Dua kali.
"Mas Satria?" Suara dari belakang membuatnya menoleh.
Bu Ratri berdiri di pintu belakang sambil membawa bakul bambu. "Aduh, Mas. Saya bikin kaget, ya?"
Satria menggeleng. "Enggak, Bu."
Bu Ratri memperhatikan wajahnya. "Mas gak enak badan?"
"Enggak. Cuma agak pusing."
Bu Ratri meletakkan bakul di atas meja. "Bapak sampun tangi?"
"Belum tahu, Bu."
"Kalau belum, biar saya bangunkan."
"Jangan." Jawaban Satria keluar terlalu cepat.
Bu Ratri menatapnya.
Satria tersenyum kecil. "Maksud saya... biar Bapak bangun sendiri."
Bu Ratri terkekeh. "Kalau Pak Husni tidur, memang susah dibangunkan."
Satria mengangkat alis. "Iya ta, Bu?"
"Kalau sudah capek." Bu Ratri mulai mengeluarkan ubi dari bakul. "Ini baru dipetik."
Satria memperhatikan. "Bapak biasanya sarapan apa?"
Bu Ratri menoleh. "Kalau pagi, biasanya gak mau makanan yang sudah dingin."
Satria mengangguk. "Oh."
"Makanya saya bikin yang hangat." Bu Ratri kembali sibuk.
Satria diam.
Ada banyak hal kecil yang baru ia ketahui tentang Bapaknya. Dan anehnya, sebagian besar justru diketahui dari orang lain.
Ia menatap ubi di atas meja. "Bapak suka ubi?"
"Kalau hangat."
Satria tersenyum. "Berarti banyak aturannya."
Bu Ratri tertawa. "Pak Husni itu kelihatannya saja gak banyak maunya."
Satria ikut tertawa.
Namun kalimat itu membuatnya berpikir.
Selama ini ia mengenal Bapak sebagai orang yang keras kepala.
Tegas.
Sulit diajak bicara.
Tetapi ternyata ada begitu banyak sisi kecil dari lelaki itu yang tidak pernah ia lihat.
Bu Ratri juga mengeluarkan beberapa tongkol jagung dari dalam bakul.
Satria mengambil salah satu tongkol jagung. “Saya bantu, Bu.”
“Bisa?”
Satria mengangkat alis. “Bisa lah.”
Ia mulai menarik kelobot jagung dari tongkolnya. Beberapa helai serabut putih masih menempel.
Bu Ratri tertawa kecil. “Masih sama.”
Satria berhenti. “Sama apa?”
“Dulu juga begitu.”