Entres Keprok Bapak

Rifatia
Chapter #18

Tahapan 17

Beberapa hari berikutnya berjalan lebih tenang.

Satria mulai terbiasa dengan ritme rumah tua Mbah Wasih.

Pagi hari, Bu Ratri datang membawa bahan makanan. Pak Hendra membersihkan halaman dan memeriksa tanaman.

Pak Husni biasanya baru mulai beraktivitas sekitar pukul delapan. Satria akan membantu memapahnya keluar.

Kadang mereka hanya duduk. Kadang Bapak mengajaknya berkeliling melihat bibit. Dan sesekali mereka berdebat soal hal-hal kecil.

"Yang ini jangan ditaruh situ, Pak."

"Kenopo?"

"Kena matahari terlalu banyak."

"Ya tinggal dipindah."

"Makanya jangan ditaruh situ."

Pak Husni mendengus. "Anak Jakarta sok ngerti tanaman."

Satria tertawa. "Ya kan Bapak yang ngajarin."

"Ngajarin kapan?"

"Dulu."

"Ra tau."

"Pelupa."

"Ngomong opo kon?"

Satria hanya tertawa.

Namun kebiasaan-kebiasaan kecil seperti itu mulai terasa menyenangkan.

Kadang mereka bahkan tidak bicara.

Satria duduk di kursi kayu sambil membaca pesan pekerjaan.

Pak Husni duduk di sebelahnya sambil memperhatikan tanaman.

Sesekali Bapak akan menunjuk sesuatu.

"Sat."

"Hm?"

"Deloken sing kono."

"Yang mana?"

"Sing godonge kuning."

Satria bangkit. "Ini?"

"Sing sebelah."

"Oh."

"Kurang banyu."

Satria mengambil selang. "Segini?"

"Alon."

"Begini?"

"Yo."

Hal-hal sederhana. Namun entah kenapa membuat Satria merasa dekat.

Pagi itu, Pak Husni meminta Satria membawanya ke sisi lain pekarangan.

Mereka berjalan perlahan melewati deretan pot.

Sampai akhirnya berhenti di bawah pohon tua yang tumbuh di bagian belakang rumah.

Pak Husni mengangkat wajah. "Nah."

Satria mengikuti pandangannya.

Sebuah pohon jeruk berdiri kokoh di hadapan mereka. Batangnya besar dengan kulit kasar. Beberapa cabang tumbuh menjulang ke atas.

"Ini pohon induk jeruk keprok," kata Pak Husni.

Satria memperhatikan pohon itu.

"Mbah Kung yang nanam?"

"Iyo."

Pak Husni menyentuh batang pohon.

"Waktu Bapak umur sepuluh tahun, Mbah Kung bawa bibit ini."

Ia tersenyum kecil. "Katanya dulu cuma buat tambahan di kebun."

"Terus jadi begini."

"Ya karena dirawat."

Pak Husni menepuk batangnya pelan. "Dulu Bapak belajar okulasi dari sini."

"Sendiri?"

"Awalnya lihat orang."

Pak Husni menunjuk salah satu cabang. "Lama-lama coba sendiri."

Satria memperhatikan jemari ayahnya yang masih menyentuh batang pohon. "Mbah Kung gak marah?"

"Marah."

Satria terkekeh.

"Kenapa?"

"Maunya Bapak kerja di kantor."

"Bapak malah ngurus tanaman."

"Iyo."

Pak Husni tersenyum. "Diam-diam Bapak belajar. Bibit punya tetangga dipelajari. Cara sambungnya dicoba."

"Terus?"

"Terus ya jadi begini."

Satria menatap pohon itu lagi.

Ia baru sadar, banyak hal dalam kehidupan ayahnya yang tidak pernah ia ketahui.

"Bapak pernah ngajarin Satria?"

Pak Husni menoleh. "Ngajarin apa?"

"Okulasi."

Pak Husni berpikir sebentar. "Kayaknya pernah."

"Kayaknya?"

"Iya."

Satria tertawa.

"Bapak lupa."

"Awakmu juga dulu gak mau belajar."

"Kenapa?"

"Katanya tangannya kotor."

Satria terdiam. Ia tidak ingat. Atau mungkin ia memang pernah mengatakannya.

Lihat selengkapnya