Entres Keprok Bapak

Rifatia
Chapter #19

Tahapan 18

Beberapa hari kemudian, Satria merasa masa cutinya sudah cukup.

Pekerjaan di Jakarta mulai memanggilnya kembali. Berkas-berkas proyek yang sempat ia tinggalkan menumpuk di meja kerja, sementara beberapa klien penting mulai menanyakan kelanjutan pekerjaan yang belum diselesaikannya.

Akan tetapi, yang paling membuatnya berani meninggalkan Nongkojajar adalah kondisi Bapak yang sudah jauh lebih baik.

Setidaknya, begitulah yang dilihatnya.

Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di lereng-lereng Nongkojajar. Udara terasa dingin ketika Satria berdiri di samping mobil sewaan yang terparkir di halaman rumah tua Mbah Wasih.

Pak Husni mengantarnya sampai teras.

Tubuh lelaki tua itu masih tampak lemah. Satu tangannya bertumpu pada tongkat berkaki empat yang baru beberapa hari terakhir menemaninya berjalan.

Satria memperhatikan langkah Bapaknya sampai benar-benar berhenti di ujung teras.

"Satria balik Jakarta dulu ya, Pak."

Pak Husni mengangguk.

"Iya. Kamu pasti capek kalau di sini terus."

"Bapak ini gimana, sih." Satria terkekeh kecil. "Anak sendiri senang hati nemenin Bapak, kok."

Pak Husni tersenyum tipis.

Matanya menatap Satria cukup lama. Ada sesuatu di sana yang tidak berhasil diterjemahkan Satria.

"Aku ini ya sehat-sehat aja," katanya kemudian. "Kamu enggak perlu nemenin aku tiap hari."

Pak Husni berhenti sejenak.

"Tiap bulan aja kamu ke sini, aku sudah senang."

Satria terdiam.

Kalimat itu sederhana, namun entah mengapa, ada sesuatu yang berdesir pelan di dalam dadanya.

Seperti permintaan yang sengaja disamarkan menjadi candaan.

Seperti seorang ayah yang terlalu gengsi untuk mengatakan bahwa ia sebenarnya akan kesepian setelah anaknya pergi.

Satria tersenyum.

"Iya, Pak."

Ia mengangguk mantap.

"Insyaallah tiap bulan Satria ke sini."

Pak Husni membalas anggukannya.

"Iya. Ya sudah. Hati-hati di jalan."

Satria mendekat.

Tangannya terulur, menggenggam tangan Bapak yang kasar dan penuh garis usia, lalu mencium punggungnya.

Dingin, namun genggamannya masih terasa kuat.

"Assalamu'alaikum, Pak."

"Wa'alaikumsalam."

Satria berbalik menuju mobil.

Tangannya sudah berada di gagang pintu ketika ia berhenti.

Ia menoleh sekali lagi.

Pak Husni masih berdiri di teras. Lelaki tua itu mengangkat tangan kanannya. Bukan lambaian. Hanya sebuah anggukan kecil.

Satria tersenyum.

Ia membalas dengan anggukan yang sama sebelum masuk ke dalam mobil.

Mesin menyala. Mobil perlahan bergerak meninggalkan halaman.

Satria menatap rumah tua itu melalui kaca depan. Pohon-pohon di pekarangan bergerak pelan diterpa angin. Sosok Bapaknya masih terlihat di kaca spion.

Semakin jauh. Semakin kecil. Hingga akhirnya menghilang di balik tikungan jalan berbukit.

Satria menarik napas panjang.

Aneh.

Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, dadanya terasa ringan.

Ia benar-benar percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Beberapa hari setelah kembali ke Jakarta, ponsel Satria bergetar hebat di atas meja kerjanya.

Nama Pak Hendra muncul di layar.

Satria segera mengangkatnya.

"Halo, Pak Hendra?"

"Mas Satria..."

Suara di seberang terdengar gemetar. Seketika senyum di wajah Satria menghilang.

"Ada apa, Pak?"

"Bapak... Bapak Husni masuk rumah sakit, Mas."

Satria langsung berdiri.

"Kenapa?!"

"Tadi mendadak jatuh di dekat pekarangan. Sekarang sudah dibawa ke Rumah Sakit Purwodadi."

Beberapa detik Satria hanya mampu mematung.

Suara-suara dari ruangan kantor di sekelilingnya seakan menjauh.

"Jatuh?"

"Iya, Mas."

"Parah?"

Lihat selengkapnya