Hari itu, langit tidak mendung namun entah mengapa, semuanya terasa gelap.
Matahari tetap bersinar di atas lereng Nongkojajar, tetapi cahayanya pucat dan dingin. Tidak mampu menghangatkan tanah, pepohonan, maupun rumah tua yang sejak pagi dipenuhi orang-orang.
Satria berdiri mematung di ambang pintu ruang tengah. Pandangannya tertuju pada bale-bale kayu di tengah ruangan. Di atasnya, tubuh Pak Husni terbaring diam. Diselimuti kain batik berwarna cokelat tua.
Wajah yang selama ini selalu bergerak, tersenyum, mengernyit, atau memanggil namanya kini benar-benar tenang.
Terlalu tenang.
Satria menatapnya lama. Matanya sembap dan merah namun air mata sudah tidak lagi keluar. Seolah tubuhnya telah kehabisan cara untuk menangis.
Sekelilingnya dipenuhi bisik-bisik doa. Suara orang mengaji. Langkah kaki yang datang dan pergi.
Suara piring dan gelas beradu dari dapur.
Aroma teh panas. Aroma bunga.
Aroma minyak angin dominan mint yang entah mengapa masih begitu kuat di kamar Bapak.
Satria menarik napas. Dadanya terasa kosong. Pak Hendra datang menghampirinya.
"Mas..."
Satria menoleh.
Pak Hendra tidak langsung bicara. Lelaki tua itu hanya menepuk bahunya pelan. "Istirahat dulu saja di kamar, Mas."
Satria terdiam. Ia tidak merasa lelah, hanya saja tubuhnya terasa kurang bertenaga.
"Pak..."
"Iya, Mas."
"Bapak...?" Satria tidak melanjutkan kalimatnya. Menggantung di udara. Seperti pikirannya yang melayang-layang.
Pak Hendra terdiam. "Nanti diantar sarapan untuk Mas Satria, ya?"
Satria menggeleng pelan. Terdiam menatap kembali tubuh Bapaknya.
Benar.
Bapak sudah tidak ada.
Tetapi anehnya, sebagian dirinya masih menunggu lelaki itu membuka mata.
Mungkin mengeluh karena terlalu banyak orang di rumah. Mungkin meminta teh. Mungkin bahkan berkata bahwa semua orang terlalu ribut.
Satria hampir tersenyum.
Hampir.
Kemudian kesadarannya kembali menghantam.
Tidak.
Bapak tidak akan melakukan itu lagi.
Rumah tua tersebut terus dipenuhi orang yang datang melayat.
Dirman, Paijo dan Ngatman berdiri di dekat pintu dengan wajah murung yang tidak biasa. Imam juga datang drngan seorang pria yang tidak dikenal Satria.
Beberapa warga dusun memenuhi ruang tamu dan pekarangan. Secara bergantian, mereka membagi diri dalam beberapa kelompok dan melakukan shalat jenasah.
Lepas dhuhur, prosesi pelepasan jenazah dimulai.
Keranda kayu hijau siap diangkat keluar dari rumah tua Mbah Wasih. Satria berusaha meraih salah satu pegangannya. Namun Pak Hendra menahan.
"Nek gak kuat, biar Dirman aja, Mas."
Di dua pegangan lain sudah ada Paijo dan Ngatman, sedangkan satu lainnya ada Pak Hendra yang siap sedia. Di sisi lain Dirman berdiri diam tidak jauh dari Satria.
Satria menoleh ke arah Dirman, sejanak ia ragu. Akan tetapi senyum dan anggukan Dirman, menguatkan Satria.
"Monggo, Mas. Saya ikut iring-iringan di belakang."
Satria tersenyum getir. Ia berterima kasih karena Dirman percaya padanya.
Dengan segenap tenaga Satria membantu Pak Hendra, Paijo dan Ngatman mengangkat keranda. Wajahnya yang sekilas datar tak bisa menyembunyikan kesedihan yang terpancar dalam matanya. Ia mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung asal-asalan.
Pak Hendra kembali khawatir. "Mas Satria..."
"Aku bisa, Pak."
"Nek capek bilang."
Satria hanya mengangguk.
Ini jalan terakhir bersama Bapak.
Ia harus kuat. Harus lebih kuat. Karena dia anak Bapak satu-satunya.
Jalan setapak menuju pemakaman terasa lebih panjang daripada biasanya. Angin pegunungan berembus dingin. Kain penutup keranda bergerak-gerak tertiup angin.
Di belakang, orang-orang dusun mengikuti dalam diam. Namun di tengah perjalanan, pandangan Satria tiba-tiba tertumbuk pada sesuatu.
Pohon jeruk keprok.
Pohon induk yang berdiri tidak jauh dari rumah.
Ia tidak bisa berhenti, tapi meski sekilas ada perasaan aneh ketika melihat pohon itu.
Seperti pernah berdiri di tempat yang sama. Seperti pernah memandang keranda dari sudut yang sama.
Satria mengerutkan dahi.
Kenangan itu datang begitu cepat, kemudian hilang. Namun sepanjang perjalanan, perasaan ganjil itu tidak benar-benar pergi.
Di TPU dekat rumah Nenek, angin bertiup lebih kencang.
Tanah sudah disiapkan. Liang lahat terbuka di hadapan mereka.
Perlahan Satria, Pak Hendra, Paijo dan Ngatman meletakkan keranda di samping liang.
Satria berdiri kaku setelahnya. Berdiri tegak yang bahkan tidak terlihat bernapas. Seperti patung.
Ia melihat keranda dibuka, siap diturunkan ke liang lahat.
Pak Hendra melihat ke arah Satria yang termangu. " Mas Satria turun?" tanyanya sambil memegang lengan Satria.
Satria tersadar. "Kenapa, Pak?"
"Mas Satria ajeng turun?"
Satria mengangguk.
Ia mengikuti instruksi Pak Hendra untuk turun ke liang lahat yang sudah ada Dirman berdiri di dalam sana.
Satu doa dilantunkan Dirman. Pelepas Bapak untuk selamanya.
Mata Satria berkaca-kaca tapi ia tidak mau menyekanya. Ia memilih menarik napas panjang setelah doa selesai. Ia juga menerima tubuh Bapaknya yang diturunkan perlahan.