Tahun kedua setelah kepergian Pak Husni, Satria kembali ke Nongkojajar.
Seperti tahun sebelumnya, ia datang untuk nyekar ke makam Bapaknya. Kali ini Adrian ikut.
Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan saat mereka berjalan menuju area pemakaman. Udara Nongkojajar terasa dingin, jauh berbeda dari hiruk-pikuk Jakarta.
Satria berdiri cukup lama di depan nisan bertuliskan nama Bapaknya. Ia tidak banyak bicara. Hanya merapatkan jaket dan membaca doa dalam diam.
Setelah selesai, mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah tua Mbah Wasih.
"Aku mau ambil beberapa barang Bapak," kata Satria.
Adrian mengangguk, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Gue tunggu di luar."
Rumah itu masih menyimpan bau kayu tua dan udara lembap yang khas. Satria melangkah masuk, langsung menuju kamar Bapaknya.
Lemari kayu besar masih berada di posisi yang sama. Beberapa pakaian lama masih tersusun rapi di dalamnya.
Satria mulai memilah.
Buku catatan pertanian. Pisau okulasi. Beberapa benda kecil yang sekiranya masih berguna.
Jari-jarinya kemudian menyentuh sebuah kardus tebal di bagian bawah lemari.
Satria menariknya keluar.
Kardus alat kesehatan.
Ia membukanya perlahan.
Di dalamnya terdapat sebuah tongkat berkaki empat yang masih terbungkus rapat plastik bening.
Satria terdiam.
Ia menyentuh plastik itu.
Masih utuh.
Tidak ada bekas robekan. Tidak ada tanah yang menempel pada karet penopangnya. Bahkan debu pun hampir tak menyentuh bodinya.
Kening Satria berkerut.
Ia melihat sebuah nota yang terselip di bawah lipatan plastik. Mengambilnya, lalu membaca tanggal pembelian yang tertera di sana.
Sekali.
Dua kali.
Dua bulan setelah Bapak meninggal.
Jari-jarinya mendadak kaku.
"Enggak..."
Satria menatap tongkat tersebut.
Perlahan, sebuah bayangan muncul di kepalanya.
Bapak berjalan menyusuri teras menggunakan tongkat.
Bapak tersenyum.
Bapak berkata kepada Pak Hendra bahwa tongkat itu pemberian anaknya.
Tok. Tok. Tok.
Suara kaki tongkat mengetuk lantai kayu seolah terdengar begitu dekat.
Satria memejamkan mata rapat-rapat.
Namun ketika membukanya kembali, tongkat itu masih berada di dalam kardus.
Masih terbungkus.
Belum pernah digunakan.
Satria mundur satu langkah.
Napasnya mulai berat.
"Enggak mungkin..."
Tangannya bergerak panik membuka laci meja.
Ia mencari apa saja yang bisa membuktikan ingatannya.
Sebuah map plastik biru ia tarik dari bagian paling bawah.
Isinya rekam medis, kuitansi rumah sakit, resep obat, dan lembar hasil pemeriksaan.
Satria membaliknya satu per satu.
Nama pasien: Husni.
Pendamping: Pak Hendra.
Lembar berikutnya.
Pendamping: Bu Ratri.
Lalu Pak Hendra lagi.