Entres Keprok Bapak

Rifatia
Chapter #22

Tahapan 21

Langkah kaki mereka terdengar pelan menyusuri koridor kayu rumah tua itu. Satria dan Adrian berjalan keluar, meninggalkan kamar yang baru saja meretakkan seluruh ingatan Satria.

Di teras depan, udara dingin Nongkojajar langsung menyambut mereka. Kabut malam mulai turun semakin tebal.

Satria menyandarkan punggungnya pada tiang kayu teras. Perlahan ia meluncur duduk di lantai semen yang dingin.

Kedua tangannya bertumpu di atas lutut. Matanya menatap halaman yang mulai gelap.

Adrian tidak langsung bicara.

Ia duduk di samping Satria, lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari saku jaketnya. Api korek menyala sebentar. Asap tipis membumbung lalu hilang ditelan kabut.

Beberapa saat mereka diam. Hanya ada suara jangkrik dan daun-daun yang bergesekan pelan.

"Lo inget waktu gue telepon soal klien di Malang?" tanya Adrian.

Satria mengangguk kecil.

"Yang proyek kantor itu?"

"Iya."

Satria mengerutkan kening.

"Kan gue waktu itu udah di Malang."

Adrian menggeleng pelan.

"Belum."

Satria menoleh.

"Lo masih di Sentul."

Jantung Satria berdegup pelan.

Sentul?

Bukannya dia di nursery waktu tiba-tiba diminta dateng ke kantor klien di Malang. Ketemu OB yang sekilas mirip Bapak.

Sentul.

Hotel itu. Lampu-lampu rumah yang terlihat kecil dari kejauhan. Udara malam. Percakapan mereka lewat telepon.

Semuanya muncul kembali.

Selama ini ia selalu mengingat tempat itu sebagai bagian dari ceritanya di nursery.

Padahal bukan.

"Lo inget Dalia?" tanya Adrian.

Satria menoleh.

"Adik kamu?"

Adrian mengangguk.

"Waktu itu gue bilang suruh jemput Dalia di bandara."

Satria diam.

Ia ingat.

"Gue bohong."

Satria menatap Adrian.

"Gue pengin lo ke Malang."

Angin malam berembus pelan.

Adrian melanjutkan. "Tapi lo malah ngilang."

Satria mengusap wajahnya. "Berapa lama?"

"Hampir dua hari."

Satria menunduk. "Gue ngapain aja?"

Adrian menggeleng. "Gue gak tahu."

"Telepon lo mati."

"Gue cuma dapat satu pesan."

Satria menatapnya. "Apa?"

Adrian mengingat sejenak. "'Butuh waktu.'"

Satria menunduk lagi.

Dua hari itu terasa kosong.

Ia hanya ingat lampu-lampu kota. Kamar hotel. Telpon dari Ibu. Saran Ibu tentang asam urat. Suara Adrian di telepon. Lalu Malang.

Selebihnya seperti hilang. Atau mungkin tertutup oleh kenangan lain yang selama ini ia pegang erat.

Adrian mematikan rokoknya di asbak tanah liat di dekat tiang teras. "Waktu itu, tiba-tiba lo juga pernah nanya hal aneh."

Satria mengangkat kepala. "Apa?"

"Soal punya adik."

Satria membeku.

"Kaya opo rasane duwe adik?"

Kalimat itu kembali terngiang di telinganya. Ia memang pernah menanyakan hal itu. Namun sampai sekarang ia tidak tahu kenapa.

Adrian menatap halaman. "Gue juga gak ngerti kenapa lo nanya itu."

Satria menunduk.

Mungkin saat itu ia sedang merasa sendirian. Mungkin juga tidak.

Ia sendiri tidak tahu. Malam itu, terlalu banyak hal yang tidak ia ingat.

Hening kembali turun di antara mereka. Angin dingin bergerak pelan melewati teras.

Adrian merapatkan jaketnya. "Gue juga pernah kehilangan Bapak, Sat."

Satria menoleh.

Adrian tersenyum tipis. "Sampai sekarang gue juga gak tahu cara yang bener buat ngadepinnya."

Satria diam.

"Jadi kalau lo sekarang masih berantakan..."

Adrian menepuk bahunya pelan. "...ya gak apa-apa."

Satria menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya, ia tidak perlu menjelaskan apa pun.

Tidak perlu berpura-pura kuat. Tidak perlu mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

Air matanya jatuh lagi.

Pelan.

Tanpa suara.

Beberapa menit berlalu.

Napas Satria mulai teratur.

Adrian berdiri lebih dulu.

Lihat selengkapnya