Entres Keprok Bapak

Rifatia
Chapter #23

Tahapan 22

Sore harinya, Satria kembali ke Malang. Ia tidak langsung pergi ke bandara, tetapi lebih dulu menuju nursery.

Satria turun dari mobil, diikuti Adrian. Mereka masing-masing membawa satu dus berisi barang-barang peninggalan Pak Husni.

Sore itu, Dirman dan Bu Siti duduk di teras depan rumah.

"Mas Satria..."

Dirman segera berdiri menyambutnya. Bu Siti ikut berdiri, sempat menyeka sudut matanya sebelum tersenyum.

Satria mengernyit.

"Kenapa, Bu?"

"Gak apa-apa, Mas."

"Udah sore, Bu. Ibu sudah dijemput belum? Mau saya antar?"

"Gak usah, Mas."

Bu Siti berujar pelan, "Itu, Mas... ada Ibu."

Deg.

Ibu.

Satria terdiam.

Selama ini Ibu tidak pernah mau lagi berurusan dengan Bapak. Bahkan untuk datang ke Nongkojajar pun Ibu selalu menolak.

Apa yang membuat Ibu datang ke sini?

"Di dalam?"

Satria baru saja hendak melepas sepatunya.

"Di bagian anggur, Mas."

Gerakannya terhenti.

"Oh."

Adrian yang sudah meletakkan dus di teras langsung mengambil dus dari tangan Satria.

"Udah. Taruh sini aja. Gue yang urus."

Satria menatapnya.

"Sana gih, ketemu Tante Ratna!"

Satria tidak menjawab.

Ia hanya mengangguk kecil, kemudian berjalan menuju bagian anggur.

Semakin dekat, langkahnya semakin pelan.

Di sana, Ibu berdiri sendirian, sedang memandang langit sore. Persis seperti yang sering dilakukan Satria ketika berada di nursery.

Satria berhenti beberapa langkah di belakangnya.

"Ibu."

Ibu menoleh.

Mereka saling memandang beberapa saat.

"Kenapa Ibu gak ikut ke Nongkojajar?"

Ibu kembali menatap halaman. "Ibu gak bisa ke sana lagi."

Satria hanya ingin bertanya. Sebenarnya, ia tahu ada terlalu banyak hal di rumah itu yang masih menyimpan luka bagi Ibu.

Beberapa detik mereka hanya berdiri. Kemudian Ibu mengulurkan tangannya. Satria menyambutnya.

"Kowe piye?"

Satria tersenyum tipis. "Capek."

"Baru nangis?"

"Iya."

Ibu mengangguk.

"Bagus."

Satria menatapnya heran.

"Kenapa bagus?"

"Berarti isih nduwe ati."

Satria tertawa kecil.

Tawa itu hanya sebentar.

Wajahnya kembali serius. "Bu..."

"Hm?"

"Satria salah."

Ibu menatapnya.

"Satria jarang pulang."

Lihat selengkapnya