Beberapa minggu berlalu.
Nursery kembali dipenuhi aktivitas.
Suara langkah para pekerja terdengar bersahutan di antara deretan polybag. Paijo dan Ngatman sibuk memeriksa bibit. Dirman duduk di teras sambil mencatat pesanan yang masuk.
"Yang sebelah sana kurang air," teriak Paijo.
Ngatman menoleh. "Yang mana?"
"Baris ketiga."
"Ya wis, tak cek."
Satria hanya tersenyum kecil mendengar suara mereka.
Ia berdiri di antara ribuan bibit tanaman.
Di tangannya terdapat pisau okulasi tua milik Bapak. Pisau itu sudah tidak setajam dulu. Beberapa bagian gagangnya bahkan mulai kusam. Namun Satria masih mengenal beratnya.
Ia memilih satu batang bawah jeruk yang sehat.
Daunnya hijau.
Batangnya cukup kuat.
Ia memeriksanya sebentar sebelum mengambil entres dari Pohon Induk Jeruk Keprok.
Entres itu tidak terlalu panjang.
Tiga mata tunas.
Satria memutarnya di antara jemarinya.
Kemudian mulai menyayat.
Pelan.
Presisi.
Pisau bergerak mengikuti arah yang sudah ia kenal.
Ia kemudian menyayat batang bawah.
Dua bagian tanaman yang berbeda kini memiliki luka yang sama.
Satria mempertemukannya.
Ia menyesuaikan kambium keduanya dengan hati-hati.
Sedikit bergeser.
Ia membetulkan posisinya. Kemudian mengikatnya menggunakan tali plastik bening.
Satu putaran.
Dua.
Tiga.
Ia berhenti.
Satria mengangkat bibit itu sedikit lebih dekat ke matanya.
"Sudah pas, Mas?"
Suara Dirman terdengar dari belakang.
Satria menoleh. "Sepertinya sudah, Pak."