Rasa menaruh dua cangkir kopi di meja dapur setiap pagi.
Ia baru sadar melakukannya lagi ketika uap dari cangkir kedua mengembun di kaca jendela, menciptakan lingkaran kabur yang tidak akan diminum siapa pun. Ia berdiri diam sebentar, menatap cangkir itu seperti menatap sesuatu yang jatuh dari langit tanpa penjelasan. Tangannya bergerak duluan, seperti selalu, sebelum kepalanya sempat bertanya kenapa. Sendok, gula setengah sendok teh, air panas dari termos yang sama, dua kali, setiap pagi, seolah ada seseorang di ruangan itu yang menunggu untuk diseduhkan kopi.
Ia menuangkan isi cangkir kedua ke wastafel, membilasnya, dan meletakkannya kembali di rak seolah tidak terjadi apa-apa. Ini kebiasaan yang tidak pernah benar-benar ia putuskan untuk mulai, dan karena itu tidak pernah benar-benar bisa ia putuskan untuk berhenti. Ia sudah berhenti bertanya kapan ini dimulai. Jauh lebih mudah membiarkannya menjadi bagian dari rutinitas pagi, seperti embun di jendela atau suara ayam tetangga, daripada memeriksa terlalu dekat kenapa tangannya masih mengingat sesuatu yang kepalanya sudah lama memutuskan untuk tidak diingat lagi.
Rumah kecil yang ia sewa di pinggir Girimulya punya satu jendela dapur yang menghadap kebun kopi milik tetangga, dan dari sanalah biasanya ia menghabiskan sepuluh menit pertama paginya, menatap kabut yang belum sepenuhnya turun dari lereng bukit, sebelum mulai bersiap untuk hari yang, sejauh ini, selalu terasa sama satu sama lain. Bangun, kopi, jalan pagi yang tidak terlalu jauh, lalu entah apa. Ia tidak pernah benar-benar merencanakan harinya lebih dari itu sejak pindah ke sini. Rencana adalah sesuatu yang dulu ia percayai bisa mengendalikan hidup, sampai ia belajar bahwa hidup tidak peduli pada rencana siapa pun.
Telepon dari Pak Wirya berdering pukul enam lewat dua puluh, lebih pagi dari biasanya, suaranya buru-buru dengan cara yang berusaha terdengar tidak buru-buru. Ada masalah di rumah nomor tujuh belas, katanya. Rasa mungkin perlu datang. Rasa mungkin—dan di sinilah suara Pak Wirya melambat, seolah memilih kata dengan hati-hati—Rasa mungkin satu-satunya orang di Girimulya yang tahu cara melihat sesuatu seperti ini.
Ia tidak bertanya apa maksud "seperti ini". Ia sudah cukup lama tinggal di kota kecil ini untuk tahu bahwa pertanyaan semacam itu jarang dijawab lewat telepon, dan bahwa jawaban yang datang terburu-buru lewat kabel telepon biasanya lebih menakutkan daripada tidak dijawab sama sekali.
Jalan menuju rumah Ibu Sarni menanjak pelan, melewati kebun kopi yang daunnya masih basah oleh embun semalam, dan Rasa berjalan dengan langkah yang sudah terbiasa dengan medan seperti ini—delapan bulan di Girimulya cukup untuk membuat kakinya hafal jalan setapak tanpa perlu melihat ke bawah. Ia bisa mendengar suara orang-orang sebelum melihat rumahnya, kerumunan kecil yang sudah berkumpul di halaman meski matahari baru separuh naik, bicara dengan suara rendah seperti sedang berada di dekat orang sakit atau orang mati. Seorang anak kecil digendong ibunya menatap ke arah rumah dengan mata lebar, seolah menunggu sesuatu keluar dari sana.
Rumah nomor tujuh belas sudah lapuk sebelum matahari terbit.
Rasa berdiri di ambang pintu yang engselnya berkarat, mencatat dalam kepala seperti kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar hilang: kayu jendela retak dalam pola radial, bukan garis lurus seperti biasanya kayu lapuk oleh usia. Cat dinding mengelupas dalam lapisan-lapisan yang seharusnya butuh dua puluh tahun untuk terbentuk, bukan berbulan-bulan. Bau apek yang seharusnya butuh musim hujan berkali-kali untuk meresap ke dalam kayu sudah memenuhi ruangan, tebal dan lembap, menempel di tenggorokan setiap kali menarik napas.
Rumah itu ditinggali tiga hari lalu.