ENTROPI

Bobby Mahmud
Chapter #2

BAB 2 — Orang Asing di Warung Bu Tini

Warung Bu Tini adalah satu-satunya tempat di Girimulya yang menjual kopi yang tidak terasa seperti air rebusan gula, dan karena itu Rasa selalu singgah ke sana setiap pagi—kebiasaan yang, ia sadari belakangan, mirip dengan cangkir kedua yang selalu ia tuang lalu buang di rumah. Sesuatu yang dilakukan tubuhnya tanpa benar-benar meminta izin dari kepalanya, seperti ada bagian dari dirinya yang masih hidup dalam rutinitas lama, menolak menyerah pada kenyataan bahwa rutinitas itu sudah tidak punya alasan untuk ada.

Warungnya kecil, hanya empat meja kayu yang sudah mengkilap oleh puluhan tahun disentuh siku dan gelas panas, dengan radio tua di sudut yang tidak pernah dimatikan sejak Rasa mulai datang ke sana, memutar apa saja yang bisa ditangkap sinyalnya di lereng bukit ini—kadang dangdut, kadang siaran berita yang setengah tenggelam oleh derik statis. Bu Tini sendiri, wanita berusia enam puluhan dengan tangan yang bergerak cepat meski langkahnya sudah melambat, selalu menyambutnya dengan anggukan kecil tanpa banyak kata—jenis keramahan yang tidak menuntut apa pun sebagai balasan, yang justru membuat Rasa merasa nyaman datang setiap hari, karena tidak ada yang perlu ia jelaskan di sana, tidak ada yang bertanya kenapa seorang wanita datang sendirian setiap pagi dan duduk menghadap jendela.

Pagi itu berbeda. Pria yang duduk di meja pojok bukan wajah yang ia kenal. Ransel besar tersandar di kaki mejanya, kemeja lengan panjang yang tidak cocok untuk cuaca pegunungan yang lembap, dan cara duduknya yang terlalu tegak untuk seseorang yang sedang santai minum kopi—seperti orang yang terbiasa duduk di ruang rapat, bukan warung kayu dengan lantai tanah dan ayam yang kadang masuk lewat pintu yang tidak pernah tertutup rapat.

"Rasa Adiwangsa?" tanyanya, sebelum Rasa sempat memesan, suaranya jelas dan terlatih, jenis suara yang biasa dipakai untuk presentasi di depan orang banyak, bukan suara orang yang sedang berbasa-basi di warung kopi desa.

Rasa berhenti di ambang pintu. Tidak banyak orang di Girimulya yang tahu nama lengkapnya—ia sengaja tidak memperkenalkan diri lebih dari perlu sejak pindah, dan Pak Wirya adalah salah satu dari sedikit orang yang tahu latar belakangnya, karena urusan administrasi kependudukan mengharuskannya demikian.

"Siapa yang tanya?"

"Adam Nusantara." Ia berdiri, mengulurkan tangan yang tidak disambut, lalu menariknya kembali dengan cara yang berusaha terlihat tidak canggung, meski kikuk itu tetap terlihat jelas di bahunya yang sedikit turun. "Fisikawan. Saya diminta datang oleh kantor gubernur untuk menyelidiki laporan anomali di sini."

"Diminta oleh siapa, tepatnya?"

Pertanyaan itu membuat Adam berhenti sebentar—jeda kecil yang, bagi orang yang terlatih membaca detail seperti Rasa, terasa seperti retakan pertama di permukaan yang halus. Matanya bergerak sedikit ke kiri, ke arah map yang masih tertutup di mejanya, sebelum kembali menatap Rasa. "Itu rumit," katanya akhirnya. "Tapi saya di sini untuk hal yang sama seperti Anda, saya kira. Mencari tahu kenapa rumah bisa lapuk dalam semalam."

Lihat selengkapnya