ENTROPI

Bobby Mahmud
Chapter #3

BAB 3 — Yang Tersembunyi di Balai Desa

Pertemuan warga diadakan malam itu juga, dipanggil mendadak oleh Pak Wirya setelah tiga rumah lain melaporkan gejala serupa—salah satunya bukan rumah yang lapuk, tapi seorang kakek yang, menurut cucunya, tiba-tiba tidak bisa mengingat nama istrinya sendiri selama hampir satu jam sebelum ingatan itu kembali seperti tidak terjadi apa-apa, seolah ada yang menekan tombol jeda di kepalanya lalu melepaskannya kembali tanpa penjelasan, meninggalkan kakek itu sendiri lebih ketakutan daripada siapa pun yang menyaksikannya.

Balai desa penuh sesak, bau keringat dan minyak wangi bercampur dengan asap dupa yang dibakar seseorang di sudut ruangan—entah untuk menenangkan diri sendiri atau mengusir sesuatu yang tidak bisa dijelaskan siapa pun apa wujudnya. Kursi-kursi plastik disusun terburu-buru, beberapa orang berdiri di dekat dinding karena tidak kebagian tempat duduk, anak-anak digendong ibu mereka meski sudah lewat jam tidur, seolah tidak ada yang berani meninggalkan mereka sendirian di rumah malam ini, seolah rumah sendiri bukan lagi tempat yang pasti aman.

Rasa berdiri di barisan belakang, dekat pintu, kebiasaan lama dari bertahun-tahun menghadiri briefing kasus—selalu di posisi yang bisa melihat semua orang tanpa terlihat sedang mengawasi, posisi yang memberinya jarak sekaligus pandangan penuh terhadap ruangan, dan juga jalan keluar tercepat kalau ia butuh udara.

Adam duduk di depan, di samping Pak Wirya, yang tampak semakin kecil setiap kali ada pertanyaan diarahkan padanya, tangannya meremas ujung kemejanya sendiri tanpa sadar, sesekali melirik ke arah Adam seolah mencari isyarat kapan harus bicara dan kapan harus diam.

"Kita butuh tahu apa yang sebenarnya terjadi," kata seorang pria di barisan tengah, suaranya keras karena takut yang dipaksa jadi marah, berdiri dari kursinya seolah duduk saja sudah terasa seperti kepasrahan yang tidak sanggup ia terima. "Bukan cerita kutukan. Fakta. Kita berhak tahu fakta."

Beberapa orang bergumam setuju, satu-dua tepuk tangan pelan muncul dari sudut ruangan, dan untuk sesaat suasana terasa seperti akan meledak jadi kerusuhan kecil sebelum Pak Wirya mengangkat kedua tangannya, meminta tenang dengan gerakan yang lebih menyerupai permohonan daripada perintah.

Seorang ibu muda di dekat jendela berdiri, menggendong bayinya lebih erat. "Anak saya demam sejak kemarin," katanya, suaranya bergetar. "Bukan demam biasa. Dia menangis setiap kali saya sebut namanya sendiri, seperti dia lupa itu namanya. Apa itu juga bagian dari ini?"

Tidak ada yang menjawab untuk sesaat. Adam membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi, seperti sadar bahwa apa pun yang ia katakan sekarang tidak akan cukup untuk menenangkan seorang ibu yang ketakutan pada anaknya sendiri.

"Saya sedang mengumpulkan data," jawab Adam, tenang, terlatih untuk situasi seperti ini dengan cara yang membuat Rasa semakin curiga—bukan curiga bahwa ia berbohong, tapi curiga bahwa ia sudah pernah berada di ruangan seperti ini sebelumnya, entah di mana, menjelaskan hal yang sama pada orang-orang yang sama takutnya, dengan nada suara yang sama tenangnya, seperti sudah hafal skripnya sendiri di luar kepala. "Yang saya tahu sejauh ini: ada pola pada lokasi kejadian. Semuanya berada dalam radius tiga kilometer dari Bukit Ler."

"Fasilitas tua itu," gumam seseorang di dekat Rasa, cukup pelan hingga hanya Rasa yang mendengar. "Kakek saya kerja di sana. Sebelum ditutup."

Lihat selengkapnya