ENTROPI

Bobby Mahmud
Chapter #4

BAB 4 — Buku Catatan

Rasa tidak membuka buku catatan itu sampai tiga hari kemudian.

Selama tiga hari itu, Girimulya semakin gelisah. Dua rumah lain melaporkan kerusakan serupa, dan seorang anak sekolah pingsan di kelas setelah, menurut gurunya, tiba-tiba tidak bisa mengenali teman sebangkunya sendiri selama beberapa menit sebelum semuanya kembali normal seperti tidak terjadi apa-apa. Rasa mendengar kabar itu dari Bu Tini, yang menyampaikannya dengan tangan gemetar sambil menuangkan kopi, seolah berita itu sendiri adalah beban yang harus segera ia lepaskan dari genggamannya.

Ia meletakkan buku catatan itu di meja dapur, di samping rak tempat dua cangkir kopinya biasa berdiri berdampingan, dan setiap pagi ia melewatinya seperti melewati sesuatu yang tertidur—hati-hati, tanpa suara, seolah gerakan tiba-tiba bisa membangunkannya. Ia tahu ini tidak masuk akal. Buku itu hanya kertas dan kulit yang sudah menua, bukan sesuatu yang bisa terbangun atau tidur. Tapi ada bagian dari dirinya yang sudah lama berhenti percaya bahwa "masuk akal" masih berlaku di Girimulya, dan bagian itu semakin besar setiap hari sejak rumah nomor tujuh belas.

Malam ketiga, setelah makan malam yang tidak benar-benar ia habiskan, ia akhirnya duduk di meja dapur dengan buku itu di depannya, lampu neon yang berdengung pelan menjadi satu-satunya suara di rumah selain detak jam dinding yang sudah lama tidak ia perhatikan iramanya.

Halaman pertama berisi tulisan tangan yang rapi, meski sudah pudar oleh waktu—tulisan seorang lelaki tua, Rasa menebak, dari cara huruf-hurufnya sedikit gemetar di ujung setiap kata. Catatan Pribadi. Bukan untuk dibaca siapa pun kecuali keluarga saya, setelah saya tiada. Di bawahnya, tanggal yang sudah dua puluh tiga tahun lewat.

Ia membaca perlahan, kadang berhenti untuk mencerna, kadang membaca ulang satu paragraf tiga kali karena tidak yakin ia memahaminya dengan benar pada bacaan pertama. Sesekali ia berhenti sama sekali, meletakkan buku itu di meja, berjalan ke jendela dapur untuk menatap kegelapan di luar seolah udara malam bisa menjernihkan sesuatu yang tidak bisa dijernihkan oleh apa pun, sebelum akhirnya kembali duduk dan melanjutkan membaca karena berhenti terlalu lama terasa sama menakutkannya dengan terus membaca.

Kakek Pak Wirya, yang namanya tertulis di halaman kedua sebagai Sastro Wiryanto, pernah bekerja sebagai penjaga keamanan di fasilitas bawah Bukit Ler selama enam tahun, sebelum fasilitas itu ditutup mendadak setelah sebuah insiden yang tidak pernah dijelaskan pada staf keamanan seperti dirinya. Halaman-halaman awal berisi catatan yang cukup biasa—jadwal jaga, keluhan soal gaji yang telat, cerita tentang anak-anaknya yang mulai sekolah—sebelum perlahan nadanya berubah, semakin sering menyebut hal-hal yang tidak bisa dijelaskan Sastro sendiri.

Mereka bilang itu proyek energi, tulis Sastro, di sebuah halaman bertanggal dua tahun setelah ia mulai bekerja. Tapi saya melihat orang-orang keluar masuk membawa alat yang tidak ada hubungannya dengan panas bumi. Saya melihat ruangan yang dindingnya dilapisi logam, dengan kursi yang mirip kursi dokter gigi tapi punya kabel yang menyambung ke kepala. Saya tidak paham apa yang mereka lakukan di sana. Saya hanya tahu bahwa orang-orang yang masuk ke ruangan itu keluar dengan cara berjalan yang berbeda, seperti baru bangun dari tidur yang terlalu panjang.

Lihat selengkapnya