Tim yang berkumpul di kaki Bukit Ler pagi itu terdiri dari enam orang: Adam, Rasa, dua warga yang ditunjuk Pak Wirya karena mengenal medan sekitar bukit, seorang petugas kecamatan yang tampak lebih gugup dari siapa pun di kelompok itu, dan Pak Wirya sendiri, yang bersikeras ikut meski usianya sudah tidak muda lagi dan lututnya terdengar berderak setiap kali menaiki tanjakan.
Jalan menuju pintu masuk fasilitas lama itu sudah lama tidak dilalui, tertutup semak yang tumbuh liar selama lebih dari dua dekade, dan dua warga yang membawa parang harus membuka jalan sedikit demi sedikit sementara yang lain mengikuti dengan hati-hati. Udara di sekitar bukit terasa berbeda dari udara di desa, lebih dingin dari yang seharusnya untuk ketinggian ini, dengan bau tanah basah yang bercampur sesuatu yang lebih tajam, hampir seperti bau logam berkarat yang tertinggal lama di udara lembap.
Rasa tidak banyak tidur malam sebelumnya. Buku catatan Sastro tergeletak terbuka di meja dapurnya ketika ia berangkat pagi itu, halaman yang sama yang ia baca berulang kali sampai kata-katanya mulai kehilangan makna karena terlalu sering diulang di kepala. Ia membawa ranselnya sendiri, lebih kecil dari yang lain, berisi alat-alat sederhana yang masih ia simpan dari masa kerjanya dulu—sarung tangan lateks, kantong bukti, senter kecil, kebiasaan yang tidak pernah benar-benar ia tinggalkan meski pekerjaannya sudah lama berhenti.
Dua warga yang ditunjuk Pak Wirya, seorang pria bernama Darto dan anaknya yang masih remaja, berjalan paling depan dengan parang mereka, sesekali bertukar kata dalam bahasa daerah yang tidak sepenuhnya Rasa pahami, nada suara mereka menandakan kegugupan yang coba mereka tutupi dengan obrolan biasa tentang cuaca dan hasil kebun. Petugas kecamatan, yang memperkenalkan diri sebagai Pak Yudi di awal perjalanan, berjalan paling belakang, sesekali berhenti untuk memeriksa telepon genggamnya yang, sejak mereka mendekati bukit, tidak lagi menunjukkan sinyal sama sekali.
"Anda baca buku catatan Pak Sastro?" tanya Adam, berjalan di samping Rasa, suaranya cukup pelan agar tidak terdengar yang lain.
"Sebagian." Rasa tidak menoleh, matanya tetap awas pada jalan yang tidak rata di bawah kakinya, kebiasaan lama yang selalu muncul di medan asing. "Anda tahu soal Dokter Hasta?"
Adam terdiam sebentar, cukup lama hingga Rasa menoleh untuk melihat ekspresinya. "Nama itu ada di beberapa dokumen yang saya temukan," katanya akhirnya, hati-hati. "Tapi saya tidak tahu identitas aslinya sampai Anda cerita soal suami Anda kemarin."
"Apa lagi yang ada di dokumen itu? Selain nama?"
"Catatan tentang subjek penelitian. Kode-kode yang belum saya pecahkan semuanya. Beberapa laporan tentang efek samping yang mereka sebut 'kebocoran termodinamika'—istilah yang, sejujurnya, tidak sepenuhnya masuk akal secara ilmiah, seolah seseorang menciptakan istilah baru untuk sesuatu yang belum pernah diteliti sebelumnya di mana pun."
"Efek samping pada siapa?"
"Itu bagian yang belum jelas," kata Adam, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia terdengar benar-benar tidak yakin, bukan sekadar berhati-hati memilih kata. "Dokumennya menyebut 'subjek utama' dan 'subjek sekunder', tapi tidak menjelaskan siapa mereka secara langsung—hanya inisial."
"Anda berbohong dengan sangat buruk untuk seseorang yang katanya fisikawan," kata Rasa, tanpa nada marah, hanya menyatakan fakta seperti mengamati bukti di tempat kejadian.