ENTROPI

Bobby Mahmud
Chapter #6

BAB 6 — Ruang Bawah Tanah

Terowongan itu lebih panjang dari yang terlihat dari luar, menurun landai dengan dinding batu yang perlahan berubah menjadi beton bertulang semakin dalam mereka berjalan, tanda bahwa fasilitas ini pernah dibangun dengan anggaran yang jauh lebih besar dari sekadar proyek geotermal desa terpencil. Langkah kaki mereka bergema di sepanjang lorong, ditemani suara tetesan air dari suatu tempat yang tidak terlihat, dan sesekali suara berdecit yang tidak jelas asalnya—entah dari pipa tua yang masih menyalurkan sesuatu, atau dari sesuatu yang lain yang tidak seorang pun berani menyebutkan namanya.

"Berhati-hatilah dengan langkah kalian," kata Adam, memimpin dengan senter yang menyapu lantai di depan mereka. "Struktur bangunan ini sudah dua puluh tiga tahun tidak dirawat. Kita tidak tahu bagian mana yang masih aman untuk dipijak."

Rasa berjalan tepat di belakangnya, matanya menyapu setiap detail yang terlewati senter Adam—pipa-pipa yang berkarat, panel kontrol yang sudah mati, pintu-pintu ruangan yang sebagian besar tertutup rapat, sebagian lagi terbuka menunjukkan kegelapan kosong di baliknya. Di salah satu dinding, ia melihat bekas coretan tergores di beton, seperti seseorang mencoba menghitung hari dengan menggores garis-garis kecil, ratusan garis yang berhenti tiba-tiba di titik tertentu tanpa penjelasan.

Mereka melewati beberapa ruangan kosong di sepanjang jalan—kantor kecil dengan meja yang masih tertata rapi, kursi yang terdorong ke belakang seolah penghuninya baru saja berdiri untuk sesuatu yang mendesak dan tidak pernah kembali. Di salah satu ruangan, sebuah kalender dinding masih tergantung, halamannya berhenti di bulan yang sama dengan tanggal penutupan fasilitas menurut catatan Sastro, seolah waktu di tempat ini memilih untuk berhenti di titik yang sama persis dua puluh tiga tahun lalu, sebelum belakangan mulai bergerak lagi dengan cara yang salah.

"Di sini," kata Darto, suaranya tercekat, menunjuk ke lantai di depan mereka. Sebuah sepatu kerja tergeletak sendirian di tengah lorong, ukurannya kecil, mungkin milik anak-anak, kulitnya masih terlihat baru meski seharusnya sudah lapuk dimakan waktu selama puluhan tahun. Tidak ada yang berkomentar lebih jauh soal itu, tapi Rasa melihat cara Pak Wirya memalingkan wajah, seolah tahu sesuatu yang tidak ingin ia katakan di depan yang lain.

Rasa berjongkok di depan sepatu itu, mengenakan sarung tangan lateks dari ranselnya tanpa berpikir dua kali, kebiasaan lama yang kembali begitu saja seolah tidak pernah pergi. Ia mengangkatnya perlahan, memeriksa bagian dalamnya, dan menemukan inisial kecil yang disulam di lidah sepatu—dua huruf yang membuat dadanya sesak sebelum ia sempat membaca jelas: K.A.

Ia meletakkannya kembali dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil, memilih untuk tidak mengatakan apa pun pada yang lain tentang apa yang baru saja ia lihat, menyimpan penemuan itu sendirian sebagai sesuatu yang harus ia pikirkan nanti, bukan sekarang, tidak di sini, di tengah terowongan yang semakin terasa seperti perutnya sendiri sedang mengeras.

Ruangan yang mereka cari—atau lebih tepatnya, ruangan yang Adam sudah tahu lokasinya dari dokumen yang ia bawa—terletak di ujung terowongan utama, di balik pintu baja yang, anehnya, tidak seberkarat pintu-pintu lain di sepanjang lorong, seolah pintu itu dijaga lebih baik atau dibuka lebih sering dari yang lain sebelum fasilitas ini ditinggalkan.

Di dalamnya, ruangan itu jauh lebih terawat dari yang mereka duga—bukan karena dirawat oleh manusia, tapi karena sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat debu tidak menumpuk di permukaan meja logam di tengah ruangan, membuat kertas-kertas yang tersebar di atasnya tetap utuh meski seharusnya sudah lapuk dimakan waktu dan kelembapan selama dua dekade lebih.

Dinding ruangan itu dipenuhi rak-rak logam berisi map dan kotak arsip, tersusun rapi seolah baru ditata kemarin, dengan label-label yang sebagian besar hanya berupa kode angka dan huruf tanpa keterangan lebih lanjut. Di tengah ruangan, selain meja logam utama, terdapat sebuah kursi yang persis seperti yang digambarkan Sastro dalam catatannya—kursi dengan sandaran yang bisa direbahkan, dikelilingi kabel-kabel yang menyambung ke sebuah panel di dindingnya, panel yang anehnya masih menyala dengan lampu indikator kecil berwarna merah, berkedip pelan seperti detak jantung yang tertidur, bukan mati.

Lihat selengkapnya