Suara itu tidak datang lagi setelah kata pertama, tapi cukup untuk membuat kaki Rasa seakan lupa cara berfungsi.
Adam menariknya mundur dengan kekuatan yang tidak ia duga akan dimiliki seorang fisikawan, tangannya menggenggam lengan Rasa erat-erat sementara kabut berkilau di sudut ruangan mulai membesar, memenuhi hampir sepertiga ruangan dengan gerakan yang menyerupai napas—memusat, menyebar, memusat, menyebar, semakin cepat setiap kali berulang. Lampu senter yang tersisa berkedip liar, dan suara berdenging aneh mulai memenuhi telinga mereka, seperti frekuensi yang terlalu tinggi untuk didengar dengan nyaman namun terlalu nyata untuk diabaikan.
"Rasa, sekarang!" Suara Adam nyaris hilang di tengah denging itu, tapi tangannya tidak melepaskan genggamannya, menariknya melewati pintu baja yang mereka masuki, melewati Pak Yudi yang sudah lebih dulu berlari ke arah terowongan keluar, melewati Darto dan anaknya yang saling berpegangan tangan sambil berlari secepat yang mereka bisa di lorong yang gelap dan tidak rata.
Pak Wirya tertinggal beberapa langkah di belakang, napasnya tersengal, lututnya yang sudah tua tidak dibuat untuk berlari secepat ini. Rasa berbalik sebentar, melihat lelaki tua itu tersandung, dan tanpa berpikir dua kali ia melepaskan diri dari genggaman Adam untuk kembali membantunya berdiri.
"Ibu Rasa, jangan—" Pak Wirya berusaha menolak bantuan itu, tapi Rasa sudah menarik lengannya, memapahnya berjalan lebih cepat, matanya sesekali melirik ke belakang mereka ke arah kegelapan yang seolah semakin mendekat, seperti bayangan yang mengejar meski tidak ada sumber cahaya yang bisa menciptakannya.
Mereka keluar dari gerbang besi tepat ketika matahari sore mulai condong ke barat, cahaya keemasan yang terasa hampir menyakitkan setelah sekian lama berada di kegelapan terowongan. Semua orang terengah-engah, berdiri berjauhan satu sama lain seperti baru saja lolos dari sesuatu yang tidak seorang pun sanggup menjelaskan dengan kata-kata yang masuk akal.
"Apa itu tadi?" Pak Yudi berbicara lebih dulu, suaranya masih gemetar, wajahnya pucat pasi. "Apa yang barusan kita lihat?"
Tidak ada yang menjawab untuk beberapa saat. Adam berdiri membungkuk, tangannya bertumpu pada lututnya sendiri, mengatur napas sebelum akhirnya berdiri tegak lagi, wajahnya juga tidak kalah pucat meski ia berusaha keras menyembunyikannya di balik ketenangan yang dipaksakan.
"Saya tidak tahu persis," katanya akhirnya. "Tapi saya rasa kita baru saja menyaksikan anomali itu sendiri, secara langsung, bukan hanya efeknya seperti yang selama ini dilaporkan warga."
Darto berdiri memeluk anaknya erat, tubuh keduanya masih gemetar. "Saya tidak akan kembali ke sana," katanya, suaranya tegas meski napasnya masih tersengal. "Tidak peduli berapa pun mereka bayar saya. Anak saya tidak akan saya bawa mendekati tempat itu lagi."