Kata-kata Adam menggantung di udara dapur selama beberapa detik yang terasa jauh lebih panjang dari yang seharusnya, dan Rasa mendapati dirinya tidak tahu harus marah, takut, atau justru merasa sesuatu yang aneh mendekati kelegaan—seolah, untuk pertama kalinya sejak Kirana meninggal, ada penjelasan yang menghubungkan kekacauan yang selama ini terasa acak dan tanpa arti.
"Sumbernya," ulangnya, pelan, mencoba merasakan bagaimana kata itu terasa di lidahnya. "Maksud Anda saya yang menyebabkan semua ini? Rumah-rumah yang lapuk, orang-orang yang lupa nama keluarga mereka sendiri?"
"Saya tidak tahu persis mekanismenya," kata Adam cepat, seolah menyesal sudah mengatakannya sekeras itu. "Tapi menurut teori mereka, ya—kondisi Anda, trauma yang belum terselesaikan sejak kematian putri Anda, mungkin menciptakan sesuatu seperti kebocoran energi yang memengaruhi entropi di lingkungan sekitar Anda. Semakin dekat Anda dengan sumber aslinya—fasilitas itu—semakin kuat efeknya."
Rasa berdiri, berjalan ke jendela dapur, menatap kebun kopi tetangga yang sekarang terasa berbeda, seolah setiap daun yang bergoyang tertiup angin bisa jadi adalah tanda dari sesuatu yang lebih besar sedang bergerak di bawah permukaan yang terlihat normal. Delapan bulan ia tinggal di Girimulya, dan selama itu ia percaya sedang menyembuhkan diri, menjauh dari segala yang mengingatkannya pada Kirana. Tapi kalau yang dikatakan Adam benar, kehadirannya sendiri di sinilah yang justru membawa kehancuran—bukan kebetulan bahwa anomali ini muncul setelah ia pindah, melainkan konsekuensi langsung dari lukanya sendiri yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Ia memikirkan Ibu Sarni, duduk di kursi plastik menatap rumahnya yang lapuk dalam semalam. Ia memikirkan anak kecil yang pingsan di sekolah karena tidak bisa mengenali teman sebangkunya sendiri. Ia memikirkan kakek yang lupa nama istrinya, dan cucunya yang menyaksikan itu semua tanpa mengerti kenapa. Kalau semua ini benar terjadi karena dirinya, karena duka yang selama ini ia simpan diam-diam di balik rutinitas dua cangkir kopi dan jalan pagi yang tidak terlalu jauh, maka ia bukan hanya korban dari sesuatu yang tidak adil—ia juga, tanpa pernah memintanya, menjadi sumber penderitaan bagi orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya sebelum delapan bulan lalu.
Rasa teringat kalimat yang sering diucapkan atasannya dulu, semasa ia masih bekerja sebagai penyidik: setiap kasus punya korban yang tidak selalu terlihat jelas di permukaan. Ia tidak pernah menyangka suatu hari akan menemukan dirinya sendiri berada di sisi lain dari kalimat itu, sebagai penyebab yang tidak pernah bermaksud menyebabkan apa pun.
"Kalau ini benar," katanya, tanpa berbalik, "berarti setiap hari saya tinggal di sini, saya membuatnya semakin buruk."
Adam tidak menjawab langsung, dan diamnya terasa seperti konfirmasi yang tidak ingin ia ucapkan dengan kata-kata.
"Kalau begitu pilihan saya cuma dua," kata Rasa, masih menatap keluar jendela. "Pergi dari Girimulya secepat mungkin dan berharap efeknya mereda dengan jarak, atau tinggal dan mencari cara menghentikannya dari akarnya."
"Ada kemungkinan ketiga," kata Adam, hati-hati. "Tapi saya tidak yakin Anda akan menyukainya."
Rasa berbalik, menunggunya melanjutkan.
"Kalau Anda pergi sekarang, tanpa menyelesaikan apa pun, ada kemungkinan efeknya tidak sepenuhnya hilang—hanya berpindah bersama Anda, ke tempat berikutnya yang Anda tinggali. Girimulya mungkin pulih perlahan, tapi masalah yang sebenarnya, yang ada di dalam diri Anda, akan tetap ada, menunggu untuk muncul lagi di tempat lain, pada orang-orang lain yang sama tidak bersalahnya seperti warga di sini."