ENTROPI

Bobby Mahmud
Chapter #10

BAB 10 — Persiapan Kedua

Tiga hari berikutnya dihabiskan dengan persiapan yang jauh berbeda dari ekspedisi pertama mereka ke Bukit Ler—kali ini bukan sekadar rombongan warga yang penasaran, melainkan sesuatu yang lebih menyerupai operasi yang direncanakan dengan hati-hati, meski tetap dengan sumber daya seadanya yang bisa mereka kumpulkan di desa kecil seperti Girimulya.

Adam menghabiskan hari-hari itu menghubungi kontaknya berulang kali, kadang berbicara dalam bahasa teknis yang tidak sepenuhnya Rasa pahami, kadang berdebat dengan suara tertahan di sudut halaman rumah Rasa yang menjadi markas dadakan mereka. Dari percakapan-percakapan itu, sedikit demi sedikit terkumpul lebih banyak informasi—peralatan yang mungkin bisa membantu mereka memantau perubahan anomali secara lebih akurat, peringatan tentang zona-zona tertentu di dalam fasilitas yang, menurut catatan lama, memiliki konsentrasi "ketidakstabilan" lebih tinggi dari area lain.

"Mereka akhirnya mau mengirim alat pemantau," kata Adam suatu sore, menunjukkan sebuah kotak logam kecil yang baru saja diantar kurir dari kota kecamatan, tampak seperti perangkat elektronik biasa namun dengan beberapa sensor tambahan yang tidak Rasa kenali fungsinya. "Ini bisa mendeteksi fluktuasi termodinamika dalam radius tertentu. Setidaknya kita akan tahu kapan area di sekitar kita mulai tidak stabil, sebelum semuanya terlambat seperti kemarin."

Rasa memeriksa alat itu dengan tangan yang sudah lebih tenang dari hari-hari sebelumnya, meski di dalam dirinya kegelisahan itu tidak pernah sepenuhnya hilang, hanya berubah bentuk menjadi sesuatu yang lebih terkendali, lebih bisa ia gunakan untuk bergerak maju alih-alih membekukannya di tempat.

Ia singgah ke warung Bu Tini seperti biasa di sela-sela persiapan, meski kali ini bukan hanya untuk kopi, melainkan juga untuk sesuatu yang lebih sederhana—momen normal di tengah hari-hari yang semakin terasa jauh dari kata normal. Bu Tini, yang biasanya hanya mengangguk singkat, kali ini duduk sebentar di seberang Rasa, tangan tuanya menggenggam cangkirnya sendiri.

"Ibu akan kembali ke bukit itu lagi," katanya, bukan pertanyaan, lebih seperti pernyataan yang sudah ia dengar dari orang-orang di desa.

"Ya," jawab Rasa sederhana.

"Saya tidak akan bertanya kenapa," kata Bu Tini, "karena saya rasa Ibu punya alasan sendiri yang tidak perlu dijelaskan pada orang tua seperti saya. Tapi saya mau bilang, apa pun yang Ibu temukan di sana, jangan lupa jalan pulang. Desa ini butuh Ibu kembali, bukan cuma untuk menyelesaikan apa yang di bukit itu, tapi juga untuk hidup sesudahnya."

Kata-kata sederhana itu menempel di dada Rasa sepanjang sisa hari, sebuah pengingat kecil bahwa di tengah semua misteri dan kengerian yang sedang ia kejar, masih ada kehidupan yang menunggunya untuk dijalani, kalau ia cukup beruntung untuk kembali.

Adam menghabiskan sore itu mengajarinya cara membaca alat pemantau yang baru saja tiba, duduk berdampingan di meja dapur yang sama, menunjuk angka-angka dan grafik kecil pada layarnya dengan kesabaran yang tidak Rasa duga dimiliki seorang fisikawan yang biasanya lebih terbiasa berbicara dengan istilah teknis daripada mengajar orang awam. "Kalau angka ini melewati batas merah," katanya, menunjuk sebuah garis pada grafik, "itu tandanya kita harus segera mundur, tidak peduli sedang di tengah apa."

"Bagaimana kalau saya menolak mundur?" tanya Rasa, setengah bercanda, setengah serius.

Lihat selengkapnya