Terowongan yang mereka masuki kali ini terasa berbeda—dinginnya lebih menusuk, bau logamnya lebih tajam, dan suara berdecit yang dulu terdengar samar kini menjadi lebih jelas, lebih teratur, hampir seperti detak yang berirama, seolah fasilitas itu sendiri memiliki denyut nadi yang perlahan mempercepat temponya. Bahkan Pak Wirya, yang biasanya paling banyak bicara di antara mereka untuk menutupi rasa takutnya, kali ini berjalan dalam diam penuh, matanya awas ke segala arah seolah mengharapkan sesuatu muncul dari balik setiap sudut gelap.
Adam memimpin dengan alat pemantaunya, matanya bergantian antara layar kecil di tangannya dan jalan di depan mereka, mencoba membaca pola fluktuasi yang semakin tidak menentu semakin dalam mereka melangkah. "Kita mendekati sumbernya," katanya, suaranya rendah, seolah takut suara yang lebih keras bisa memicu sesuatu yang belum siap mereka hadapi. "Pembacaan ini jauh lebih tinggi dari titik yang sama saat kunjungan pertama."
Mereka melewati ruangan-ruangan yang sudah mereka lihat sebelumnya, tapi kali ini dengan detail yang lebih jelas terlihat oleh mata yang sudah tidak sepenuhnya asing dengan tempat ini—kalender yang berhenti di bulan yang sama, kursi-kursi kosong yang tertata seperti baru ditinggalkan, coretan-coretan penghitung hari di dinding yang, Rasa perhatikan kali ini, jumlahnya bertambah sejak kunjungan pertama, meski tidak seorang pun kembali untuk menambahkannya.
Di lorong yang sama tempat mereka menemukan sepatu kecil bertuliskan K.A., Rasa berhenti sejenak, matanya mencari ke tempat sepatu itu seharusnya masih berada. Sepatu itu sudah tidak ada di sana, hanya bekas jejak kaki kecil di lapisan debu tipis yang menempel di lantai—jejak yang, dari arahnya, seolah berjalan lebih dalam ke fasilitas, bukan keluar menuju gerbang.
"Rasa," panggil Adam, memperhatikan ke mana ia menatap. "Anda baik-baik saja?"
"Jejak kaki ini bergerak ke dalam," katanya, suaranya nyaris berbisik. "Bukan keluar."
Tidak ada yang berani mengomentari lebih jauh soal itu, dan mereka melanjutkan berjalan, langkah mereka sedikit lebih cepat dari sebelumnya, seolah ingin segera mencapai ruangan utama sebelum keberanian mereka habis sepenuhnya.
Di ruangan tempat mereka menemukan map berisi foto suaminya, sesuatu telah berubah. Kabut berkilau yang dulu hanya muncul di satu sudut kini memenuhi hampir sepertiga ruangan, bergerak dengan ritme yang lebih jelas—memusat, menyebar, memusat, menyebar—seperti sesuatu yang bernapas dengan lebih dalam, lebih sadar akan kehadiran mereka dibanding sebelumnya.
"Rasa," kata Adam, suaranya penuh peringatan, tapi Rasa sudah melangkah lebih dekat, ditarik oleh sesuatu yang lebih kuat dari rasa takut atau logika, sesuatu yang berasal dari tempat paling dalam dalam dirinya yang sudah menunggu momen ini selama satu tahun penuh.
"Kirana?" panggilnya, suaranya pecah di tengah kata, lebih rentan dari yang pernah ia perlihatkan pada siapa pun sejak hari pemakaman. "Kalau kamu di sana, kalau kamu bisa dengar Ibu—"
Kabut itu bergerak lebih cepat, memusat menjadi bentuk yang, untuk sepersekian detik, hampir menyerupai siluet seorang anak kecil, tinggi dan proporsi tubuhnya persis seperti yang Rasa ingat dari Kirana di usia delapan tahun, sebelum kembali membubar menjadi kabut tanpa bentuk yang jelas.