ENTROPI

Bobby Mahmud
Chapter #12

BAB 12 — Yang Tidak Sesuai Laporan

Mereka berlari melewati terowongan yang sama, kali ini dengan dinding-dinding di sekitar mereka bergetar semakin keras, debu dan serpihan kecil jatuh dari langit-langit, lampu-lampu yang tersisa berkedip liar sebelum akhirnya mati satu per satu, meninggalkan mereka dalam kegelapan yang hanya diterangi senter Adam yang bergerak liar mengikuti langkah mereka yang tergesa.

Pak Wirya, meski usianya tidak lagi muda, berlari dengan kecepatan yang tidak pernah Rasa duga bisa ia miliki, ketakutan menjadi bahan bakar yang lebih kuat dari kelelahan fisik mana pun. Mereka mencapai gerbang besi tepat ketika getaran mencapai puncaknya, sebuah suara gemuruh rendah menggema dari dalam bukit seperti sesuatu yang sangat besar baru saja bergeser di kedalamannya.

Rasa berlari sambil sesekali menoleh ke belakang, tidak sepenuhnya karena takut sesuatu mengejar mereka, melainkan karena bagian dari dirinya masih terikat pada ruangan yang mereka tinggalkan, pada suara yang baru saja mulai bercerita sebelum terputus paksa oleh keadaan darurat. Ada rasa bersalah yang aneh menyelinap di antara ketakutannya—perasaan seolah ia baru saja meninggalkan Kirana untuk kedua kalinya, meski logikanya tahu bahwa tetap di sana hanya akan membahayakan mereka semua tanpa jaminan mendapat jawaban yang lebih banyak.

Di luar, di bawah cahaya matahari sore yang menyilaukan setelah sekian lama berada dalam kegelapan, mereka berdiri terengah-engah, menatap ke arah gerbang yang perlahan berhenti bergetar, kesunyian yang tiba-tiba terasa hampir sama menakutkannya dengan kegaduhan yang baru saja mereka tinggalkan.

"Apa yang baru saja terjadi?" tanya Pak Wirya, di antara napasnya yang tersengal.

"Saya tidak yakin," kata Adam, memeriksa alat pemantaunya yang kini menunjukkan pembacaan yang perlahan kembali stabil, meski masih jauh lebih tinggi dari data awal sebelum kunjungan pertama mereka. "Tapi apa pun itu, sesuatu di dalam sana baru saja merespons kehadiran kita dengan cara yang jauh lebih kuat dari sebelumnya."

Pak Wirya duduk di atas sebongkah batu di dekat gerbang, masih berusaha mengatur napasnya. "Saya dengar apa yang dikatakan suara itu," katanya pelan, tidak menatap siapa pun secara langsung. "Soal tangga. Soal kecelakaan yang bukan sebenarnya."

Rasa menoleh padanya, terkejut bahwa Pak Wirya juga mendengar dengan jelas kata-kata yang tadi terasa begitu personal, begitu privat, hingga ia lupa bahwa dua orang lain berdiri menyaksikan percakapan itu.

Lihat selengkapnya