Nama dokter yang tertulis di laporan kematian Kirana adalah dr. Wibisono Adjie, dan butuh waktu dua hari penuh bagi Adam dan kontaknya untuk melacak keberadaannya—seorang lelaki yang, menurut catatan terakhir, pensiun dari praktik medis lebih dari lima tahun lalu dan kini tinggal di sebuah kota kecil di kaki gunung lain, tiga jam perjalanan dari Girimulya.
"Kita perlu menemuinya langsung," kata Adam, menunjukkan alamat yang berhasil ia temukan pada layar telepon genggamnya, sinyal yang buruk membuat gambar peta itu memuat dengan lambat. "Telepon tidak akan cukup untuk pertanyaan seperti ini."
Rasa setuju tanpa perlu dipikirkan lama. Ia sudah cukup lama hidup dalam ketidaktahuan, dan sekarang, dengan setiap kepingan kebenaran yang mulai terkumpul, rasa lapar untuk tahu lebih banyak terasa hampir seperti kebutuhan fisik, sesuatu yang tidak bisa ia abaikan meski risikonya jelas semakin besar setiap hari.
Mereka berangkat pagi berikutnya, meminjam mobil tua milik Pak Wirya yang jarang digunakan sejak lututnya memburuk, perjalanan yang membawa mereka menjauh dari Girimulya untuk pertama kalinya sejak Rasa memutuskan menyelidiki anomali ini. Ada sesuatu yang terasa aneh meninggalkan desa itu, seolah setiap kilometer yang mereka tempuh menjauh membuat udara terasa lebih ringan, lebih normal, sebuah pengingat betapa berat atmosfer yang tanpa sadar sudah mereka bawa selama berminggu-minggu terakhir.
Pak Wirya melepas mereka di depan rumahnya pagi itu, menyerahkan kunci mobil dengan pesan singkat untuk berhati-hati, matanya masih menyimpan kekhawatiran yang sama seperti sejak ekspedisi kedua mereka ke Bukit Ler. "Kalau kalian tidak kembali sebelum malam," katanya, "saya akan menelepon siapa pun yang bisa saya hubungi untuk mencari kalian."
Rasa mengangguk, menghargai perhatian itu meski juga menyadari betapa jauh perjalanan hidupnya berubah sejak delapan bulan lalu—dari seorang wanita yang sengaja mengasingkan diri agar tidak ada yang mengkhawatirkannya, menjadi seseorang yang sekarang dikelilingi orang-orang yang benar-benar peduli pada keselamatannya.
"Anda baik-baik saja?" tanya Adam, di tengah perjalanan, matanya sesekali melirik ke arah Rasa yang duduk diam menatap jendela.
"Saya baru sadar," kata Rasa, "sudah berapa lama saya tidak benar-benar keluar dari Girimulya. Delapan bulan, dan saya baru menyadarinya sekarang, di tengah perjalanan mencari kebenaran tentang kematian anak saya."
Adam tidak menjawab langsung, membiarkan keheningan mengisi ruang di antara mereka, sebuah jenis kehadiran yang tidak menuntut apa pun, yang Rasa mulai menghargai lebih dari yang ia duga akan pernah ia hargai dari orang asing yang baru ia kenal beberapa minggu lalu.
"Bagaimana kalau dia menolak bicara?" tanya Rasa, setelah beberapa menit berlalu, kekhawatiran yang selama ini ia tekan mulai muncul ke permukaan. "Bagaimana kalau dia sudah terlalu takut untuk mengingat apa pun tentang hari itu?"
"Maka kita akan mencari cara lain," kata Adam. "Tapi saya rasa orang yang menyimpan rahasia selama bertahun-tahun biasanya juga diam-diam menunggu kesempatan untuk melepaskannya. Kita hanya perlu memberinya kesempatan itu."
Rumah dr. Wibisono lebih kecil dari yang Rasa bayangkan, dikelilingi kebun sayur yang tertata rapi, jauh dari kesan seorang dokter yang pernah terlibat dalam proyek penelitian rahasia. Lelaki tua yang membuka pintu tampak terkejut melihat dua orang asing berdiri di depan rumahnya, dan keterkejutan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam—ketakutan yang tidak bisa ia sembunyikan—begitu Rasa memperkenalkan dirinya.