Perjalanan pulang ke Girimulya terasa jauh lebih berat dari perjalanan pergi, meski jarak yang ditempuh sama persis. Rasa duduk diam di kursi penumpang, menatap jalanan yang berkelok tanpa benar-benar melihatnya, pikirannya tenggelam dalam gambaran yang baru saja terbentuk di kepalanya—suaminya, memegang tangan Kirana di detik-detik terakhir, menangis, mengetahui persis apa yang terjadi namun tidak pernah cukup berani untuk menceritakannya pada Rasa, sebelum akhirnya kehilangan nyawanya sendiri hanya beberapa bulan kemudian.
Map yang diberikan dr. Wibisono tergeletak di pangkuannya, belum berani ia buka sepenuhnya, seolah isi di dalamnya bisa menghancurkan sisa-sisa kepercayaan yang masih tersisa dalam dirinya terhadap masa lalu yang selama ini ia yakini kebenarannya.
"Dia tahu," katanya akhirnya, memecah keheningan yang sudah bertahan hampir satu jam. "Suami saya tahu persis apa yang terjadi pada Kirana, dan dia membawa rahasia itu sampai dia meninggal tidak lama kemudian."
"Mungkin dia tidak bisa cerita," kata Adam, hati-hati. "Mungkin ada ancaman yang membuatnya diam, sesuatu yang lebih besar dari sekadar rasa bersalah."
"Itu tidak membuatnya lebih baik," kata Rasa, suaranya tajam. "Ia membiarkan saya percaya itu kecelakaan biasa, membiarkan saya menyalahkan diri sendiri karena tidak cukup menjaga anak kita, padahal dia tahu persis kebenarannya."
Adam tidak mencoba membela lebih jauh, membiarkan kemarahan Rasa mengalir tanpa dihalangi, memahami bahwa kata-kata apa pun saat ini hanya akan terasa seperti pembenaran yang tidak pantas untuk pengkhianatan sebesar itu. Sesekali ia melirik ke arah Rasa, ingin menawarkan penghiburan namun tidak menemukan kata yang tepat, akhirnya memilih diam sebagai bentuk penghormatan pada kemarahan yang berhak dirasakan Rasa sepenuhnya tanpa gangguan.
Mereka berhenti sebentar di sebuah warung kecil di pinggir jalan untuk makan siang yang tidak sepenuhnya mereka nikmati, masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri. Rasa mendapati dirinya tidak bisa menghabiskan makanannya, perutnya terlalu penuh dengan hal lain untuk menampung apa pun, dan Adam, tanpa berkata apa-apa, membungkus sisa makanannya untuk dibawa, sebuah perhatian kecil yang entah kenapa membuat Rasa hampir menangis lagi, kali ini bukan karena kesedihan melainkan karena betapa asingnya rasanya diperhatikan sedetail itu setelah bertahun-tahun terbiasa sendirian.
Mereka tiba di Girimulya menjelang senja, dan hal pertama yang Rasa lakukan setelah sampai di rumah adalah mengeluarkan kembali kotak barang peninggalan suaminya, kali ini dengan tekad yang berbeda dari malam-malam sebelumnya—bukan lagi mencari kenangan, melainkan mencari petunjuk, mencari bukti apa pun yang mungkin ia lewatkan selama ini karena terlalu sibuk berduka untuk benar-benar mencari.
Di dasar kotak itu, tersembunyi di balik lapisan kain yang selama ini ia kira hanya pembungkus biasa, jarinya menyentuh sesuatu yang keras—sebuah buku catatan kecil, jauh lebih tipis dari milik Sastro, dengan sampul kulit yang sudah pudar warnanya. Rasa tidak pernah melihatnya sebelumnya, atau mungkin pernah, namun tidak pernah memperhatikannya dengan cukup seksama untuk menyadari keberadaannya.