Malam itu, setelah membaca buku catatan suaminya sampai halaman terakhir, Rasa duduk di lantai dapur untuk kedua kalinya sejak pindah ke Girimulya, dikelilingi kertas-kertas dan dokumen yang sudah mereka kumpulkan selama berminggu-minggu, mencoba menyusun kembali gambaran utuh dari kepingan-kepingan yang selama ini terpisah-pisah.
Map dari dr. Wibisono, yang akhirnya ia buka setelah tiba di rumah, berisi catatan medis asli yang jauh lebih rinci dari laporan resmi—hasil pemeriksaan awal Kirana, catatan tentang pola cedera yang tidak biasa, bahkan sketsa kasar yang dibuat dr. Wibisono sendiri untuk mendokumentasikan lokasi cedera secara visual. Membaca dokumen itu membuat sesuatu di dalam dirinya, yang selama ini samar dan tidak terbentuk, mulai mengeras menjadi tekad yang lebih jelas: ia harus tahu segalanya, tidak peduli seberapa menyakitkan kebenarannya.
Salah satu catatan kecil di sudut halaman terakhir menarik perhatiannya—sebuah singkatan yang tidak sepenuhnya ia pahami, ditulis terburu-buru seolah dr. Wibisono mencatatnya sambil terus bekerja: Pola serupa dgn subjek dewasa R.A., sesi sebelumnya. Rasa membaca kalimat itu berulang kali, mencoba memahami maknanya, sebelum akhirnya menyadari implikasinya—bahwa dirinya sendiri pernah menjalani "sesi" serupa jauh sebelum kematian Kirana, sesuatu yang tidak pernah ia ingat sama sekali terjadi padanya.
Ia mencoba mengingat masa-masa sebelum kematian Kirana, mencari celah waktu yang mungkin selama ini ia lewatkan tanpa sadar—perjalanan dinas suaminya yang bertepatan dengan periode itu, hari-hari di mana ia sendiri pulang dari kantor dengan sakit kepala yang tidak bisa ia jelaskan asalnya, malam-malam di mana ia terbangun dengan perasaan kehilangan waktu tanpa tahu ke mana perginya. Semuanya terasa samar, tidak jelas, seperti mencoba melihat sesuatu melalui kaca yang berembun.
Adam duduk di seberangnya, membantu menyortir dokumen, meski sesekali berhenti untuk memastikan Rasa masih baik-baik saja, matanya penuh kekhawatiran yang tidak lagi ia coba sembunyikan di balik profesionalisme.
"Kematian suami Anda," katanya perlahan, "kalau benar bukan kecelakaan seperti yang ia tulis sendiri, berarti orang-orang yang sama masih ada di luar sana. Orang yang sama yang mungkin masih mengawasi Anda sekarang."
"Saya sudah memikirkan itu," kata Rasa. "Tapi entah kenapa saya tidak lagi sepenuhnya takut pada mereka. Saya lebih takut pada apa yang sedang terjadi di dalam kepala saya sendiri."
"Apa maksud Anda?"
Rasa mengangguk, kelelahan mulai menggerogoti tubuhnya setelah hari yang begitu panjang dan berat, tapi pikirannya masih terlalu penuh untuk beristirahat. Ia meraih salah satu foto lama yang tersimpan di kotak barang suaminya—foto keluarga mereka bertiga, diambil di pantai beberapa bulan sebelum kematian Kirana, momen bahagia yang selama ini menjadi salah satu kenangan favoritnya.
Tapi menatap foto itu sekarang, sesuatu terasa aneh. Ia mencoba mengingat hari itu dengan jelas—cuaca cerah, Kirana berlari mengejar ombak, suaminya tertawa sambil mengabadikan momen itu dengan kamera lama mereka. Tapi ketika ia mencoba mengingat lebih detail, siapa yang mengambil foto itu, bagian dari ingatannya terasa kosong, seperti halaman buku yang sengaja dirobek.