Panggilan telepon dari Pak Yudi datang tengah malam, suaranya panik dan terpotong-potong di tengah sinyal yang buruk, cukup untuk membuat Rasa dan Adam berlari keluar rumah tanpa sempat mengganti pakaian tidur mereka dengan pakaian yang lebih layak untuk keadaan darurat.
Rasa baru saja tertidur sebentar setelah malam yang panjang menyusun dokumen bersama Adam, mimpinya dipenuhi bayangan kabut berkilau dan suara kecil yang memanggilnya, ketika dering telepon memaksanya kembali ke kenyataan yang, ternyata, jauh lebih mengerikan dari mimpi mana pun yang baru saja mengganggunya. Ia meraih ponselnya dengan tangan yang masih setengah mengantuk, namun nada suara Pak Yudi di ujung telepon langsung membuatnya sepenuhnya terjaga.
"Ibu Rasa, cepat ke balai desa," katanya, suaranya nyaris tidak terdengar di antara jeritan dan kebisingan di latar belakang telepon. "Semuanya kacau. Saya tidak tahu harus mulai dari mana menjelaskannya."
Mereka berlari di sepanjang jalan desa yang biasanya sunyi di jam segini, tapi malam itu dipenuhi orang-orang yang berlarian ke segala arah, beberapa membawa barang-barang seadanya, seolah bersiap mengungsi tanpa tahu ke mana harus pergi. Suara tangisan anak-anak bercampur dengan teriakan orang dewasa yang mencoba menenangkan sekaligus mencari anggota keluarga mereka di tengah kekacauan.
"Setengah desa," kata Pak Yudi, begitu mereka tiba di balai desa yang sudah dipenuhi warga yang berlarian dalam kepanikan, sebagian mengenakan piyama, sebagian menggendong anak-anak yang menangis ketakutan. "Setengah desa kehilangan listrik dan air secara bersamaan sejak sejam lalu. Tapi bukan cuma itu—tiga rumah lagi lapuk dalam hitungan menit, bukan lagi berjam-jam seperti sebelumnya."
Rasa berlari mengikuti arah yang ditunjuk warga, jantungnya berdebar kencang melihat pemandangan yang jauh lebih buruk dari yang pernah ia saksikan sejak tiba di Girimulya—jalan-jalan yang retak dengan pola yang tidak wajar, pohon-pohon di pinggir jalan yang daunnya menguning dan rontok seketika seolah musim gugur dipaksa datang dalam semalam, dan di kejauhan, arah Bukit Ler, langit malam tampak berkilau samar dengan warna yang tidak seharusnya ada di langit mana pun.
"Ini jauh lebih cepat dari perkiraan," kata Adam, alat pemantaunya berbunyi tanpa henti, angka-angka pada layarnya bergerak liar melewati setiap ambang batas yang pernah mereka catat sebelumnya. "Sesuatu di fasilitas itu tidak lagi stabil. Ini bukan lagi kebocoran perlahan—ini seperti bendungan yang mulai jebol."
Di sepanjang jalan menuju rumah yang runtuh, mereka melewati kelompok-kelompok warga yang berkumpul dalam kebingungan, sebagian mencoba menenangkan anak-anak yang menangis, sebagian lain berdebat keras tentang apakah harus mengungsi malam itu juga atau bertahan menunggu penjelasan. Seorang pemuda berlari melewati mereka sambil berteriak bahwa sumur di ujung desa tiba-tiba mengering total, airnya lenyap seolah tidak pernah ada, meninggalkan lubang kosong yang menganga di tanah yang biasanya basah.
Mereka berlari ke arah kerumunan warga yang berkumpul di depan salah satu rumah yang baru saja runtuh, dindingnya ambruk seperti dimakan usia berpuluh tahun dalam hitungan menit, debu masih mengepul di udara malam yang dingin. Seorang wanita menangis histeris di pelukan tetangganya, anaknya yang berusia lima tahun masih di dalam rumah ketika keruntuhan itu terjadi.
"Ada anak di dalam!" teriak seseorang, dan tanpa berpikir dua kali, beberapa warga bergegas menggali puing-puing dengan tangan kosong, Rasa dan Adam segera bergabung membantu, mengabaikan risiko pada diri mereka sendiri di tengah kepanikan yang mendesak. Debu dan serpihan kayu menempel di tangan Rasa yang mulai berdarah kecil-kecil, namun ia tidak berhenti, dorongan untuk menyelamatkan anak yang tidak dikenalnya itu terasa begitu mendesak, hampir seperti berusaha menyelamatkan Kirana untuk kedua kalinya, meski kali ini dengan kesempatan yang belum terlambat.