ENTROPI

Bobby Mahmud
Chapter #17

BAB 17 — Kontak yang Akhirnya Muncul

Mereka kembali ke rumah Rasa untuk mengambil peralatan yang tersisa, langkah mereka masih terburu-buru dan napas belum sepenuhnya teratur setelah membantu evakuasi di reruntuhan rumah yang baru saja mereka tinggalkan. Rasa mencoba menyusun pikirannya di sepanjang jalan pulang, mencoba memikirkan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya dengan sisa waktu yang semakin menipis, ketika sesuatu di depan rumahnya membuat langkahnya berhenti mendadak.

Di sanalah, menunggu di halaman depan dengan mobil hitam yang tidak pernah Rasa lihat sebelumnya di Girimulya, seorang wanita berdiri dengan sikap yang jelas menunjukkan ia bukan warga desa biasa—pakaiannya rapi meski sederhana, sikapnya tenang di tengah kekacauan yang masih terdengar dari kejauhan, seolah kepanikan yang melanda desa ini bukan sesuatu yang asing baginya.

Adam berhenti mendadak begitu melihatnya, tubuhnya menegang dengan cara yang tidak pernah Rasa saksikan sebelumnya, bahkan ketika mereka menghadapi anomali secara langsung di ruangan bawah tanah. "Ini tidak mungkin," gumamnya, lebih pada dirinya sendiri.

"Adam Nusantara," katanya, suaranya tegas dan profesional, matanya beralih ke Rasa sebelum kembali ke Adam. "Kita perlu bicara. Sekarang."

"Siapa Anda?" tanya Rasa, berdiri waspada di samping Adam, tangannya secara refleks bergerak lebih dekat ke arahnya.

"Namanya tidak penting," kata wanita itu. "Yang penting, saya di sini untuk memberitahu bahwa apa yang terjadi malam ini di desa Anda bukan lagi sesuatu yang bisa ditangani secara lokal. Lembaga kami sudah memutuskan untuk mengambil alih fasilitas itu sepenuhnya, mulai besok pagi."

"Mengambil alih dengan cara apa?" tanya Adam, suaranya tegang, jelas mengenali wanita itu dari suatu tempat meski Rasa tidak bisa membaca ekspresinya dengan pasti.

"Anda mengenalnya?" tanya Rasa, menoleh pada Adam.

"Kita pernah bekerja di divisi yang sama, beberapa tahun lalu," kata Adam, tanpa mengalihkan pandangannya dari wanita itu. "Sebelum saya dipindahkan ke proyek pengawasan lapangan."

Wanita itu tersenyum tipis, senyum yang tidak sepenuhnya ramah namun juga tidak bermusuhan. "Dunia ini lebih kecil dari yang Anda kira, Adam."

"Kenapa Anda pindah dari divisi itu?" tanya Rasa, penasaran, mencoba memahami lebih banyak tentang masa lalu Adam yang selama ini jarang ia ceritakan.

"Saya minta dipindahkan," kata Adam, singkat, matanya masih terpaku pada wanita di depan mereka. "Setelah menyaksikan bagaimana mereka memperlakukan data yang seharusnya adalah manusia, bukan angka di layar."

Lihat selengkapnya