ENTROPI

Bobby Mahmud
Chapter #18

BAB 18 — Batas Waktu

Sisa malam dihabiskan dengan persiapan tergesa-gesa yang jauh berbeda dari kehati-hatian yang mereka rencanakan sebelumnya—tidak ada waktu lagi untuk mengumpulkan lebih banyak peralatan, tidak ada waktu untuk menyusun strategi yang matang, hanya keputusan cepat berdasarkan informasi terbatas dan taruhan yang semakin tinggi setiap menit yang berlalu.

Sebelum berangkat, Rasa sempat singgah sebentar ke rumahnya sendiri, berdiri di ambang pintu dapur menatap dua cangkir yang masih berdiri di rak seperti biasa. Ia tidak sempat menyeduh kopi pagi itu, tapi ia menyentuh kedua cangkir itu sejenak, sebuah perpisahan kecil yang tidak terucap, seandainya malam ini menjadi malam terakhirnya melakukan apa pun.

Ia juga sempat menulis sepucuk surat singkat, ditinggalkan di atas meja dapur, ditujukan pada siapa pun yang mungkin menemukannya kalau ia tidak kembali—permintaan maaf pada warga Girimulya atas semua yang telah terjadi karena kehadirannya, dan ucapan terima kasih pada Pak Wirya serta Bu Tini atas kebaikan yang mereka tunjukkan pada orang asing yang datang membawa lebih banyak masalah daripada yang pernah mereka duga.

Pak Wirya bersikeras ikut kembali, meski Rasa dan Adam sama-sama mencoba membujuknya untuk tinggal, mengingat usianya dan risiko yang semakin besar malam ini. "Kakek saya menghabiskan hidupnya menjaga rahasia tentang tempat ini," katanya, tidak mau mundur. "Saya tidak akan membiarkan Ibu Rasa menghadapinya sendirian di malam yang mungkin jadi kesempatan terakhir."

"Ini bukan lagi soal keberanian, Pak," kata Adam, mencoba sekali lagi. "Kalau terjadi sesuatu pada Anda di sana, saya tidak yakin kami bisa membawa Anda keluar tepat waktu."

"Saya sudah cukup tua untuk memilih risiko saya sendiri," jawab Pak Wirya, tegas, dan tidak ada lagi yang mencoba membantahnya setelah itu.

Mereka mencapai gerbang besi Bukit Ler sesaat sebelum fajar, langit di ufuk timur mulai memerah samar, sebuah pengingat cepatnya waktu yang tersisa sebelum protokol yang disebutkan wanita misterius itu dijalankan. Terowongan di dalamnya terasa lebih tidak stabil dari sebelumnya, dinding-dindingnya bergetar pelan secara konstan, bukan lagi getaran sesaat seperti kunjungan-kunjungan sebelumnya, melainkan sesuatu yang lebih menyerupai napas panjang yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Kartu akses yang diberikan wanita itu membuka sebuah pintu tersembunyi di ujung lorong yang belum pernah mereka jelajahi sebelumnya, menuntun mereka menuruni tangga logam yang berputar semakin dalam ke jantung bukit, jauh lebih dalam dari ruangan tempat mereka biasa menemukan dokumen dan menyaksikan anomali. Suhu udara turun semakin dingin setiap beberapa anak tangga yang mereka lewati, napas mereka mulai terlihat mengepul tipis, dan suara dengungan yang sejak awal terdengar samar kini semakin jelas, seperti mendekati jantung dari sesuatu yang hidup dan berdenyut.

Pak Wirya berjalan di belakang mereka, tangannya menyentuh dinding logam sesekali untuk menjaga keseimbangan, wajahnya pucat namun tekadnya tidak goyah. "Kakek saya pernah menyebut tempat ini dalam catatannya," katanya, suaranya bergema di tangga sempit itu. "Ia menyebutnya 'jantung yang tidak seharusnya berdetak'. Saya kira sekarang saya paham maksudnya."

Ruang kontrol utama, ketika mereka akhirnya mencapainya, jauh lebih besar dari yang Rasa bayangkan—dinding-dindingnya dipenuhi panel dan layar yang sebagian masih menyala dengan cahaya redup, di tengahnya sebuah struktur besar menyerupai kubah logam yang berdengung pelan, dikelilingi kabel-kabel yang menjalar ke segala arah seperti akar pohon raksasa yang tertanam di jantung bukit.

Di salah satu dinding, sebuah layar besar menampilkan grafik yang terus bergerak, garis-garis yang mewakili sesuatu yang tidak sepenuhnya Rasa pahami namun jelas menunjukkan pola yang sama dengan yang mereka lihat pada alat pemantau kecil Adam—hanya jauh lebih besar, lebih rinci, seolah layar ini adalah jantung yang memompa data ke seluruh sistem yang lebih kecil yang tersebar di penjuru fasilitas.

Lihat selengkapnya