ENTROPI

Bobby Mahmud
Chapter #19

BAB 19 — Ruang di Antara

Sensasi pertama yang Rasa rasakan begitu kabel-kabel itu tersambung bukanlah rasa sakit seperti yang ia bayangkan, melainkan sesuatu yang lebih menyerupai tenggelam perlahan ke dalam air hangat, dunia di sekitarnya memudar lapis demi lapis sampai ruang kontrol, Adam, Pak Wirya, semuanya lenyap digantikan oleh kegelapan yang tidak sepenuhnya gelap—lebih seperti berada di dalam kabut tebal yang berkilau lembut dari dalam dirinya sendiri.

Ia mendengar suara Adam sekali, jauh dan teredam, memanggil namanya seolah dari ujung terowongan yang sangat panjang, lalu suara itu pun ikut memudar, digantikan oleh keheningan yang begitu penuh hingga terasa seperti suara itu sendiri—bukan ketiadaan bunyi, melainkan jenis kesunyian yang punya berat dan tekstur, yang bisa dirasakan di kulit seperti sentuhan kabut dingin.

Ia tidak tahu berapa lama ia berada dalam kekosongan itu sebelum bentuk-bentuk mulai muncul di sekelilingnya, samar pada awalnya, lalu semakin jelas—sebuah ruangan yang ia kenali, dapur rumah lama mereka sebelum pindah ke Girimulya, dengan detail yang begitu presisi hingga ia bisa mencium aroma kopi yang menguar dari cangkir di meja, mendengar detak jam dinding yang sudah lama rusak di dunia nyata namun di sini berdetak sempurna. Bahkan retakan kecil di ubin lantai dekat kulkas, yang selama bertahun-tahun tidak pernah sempat mereka perbaiki, ada persis di tempatnya, seolah setiap detail sekecil apa pun dari kehidupan lama mereka disimpan sempurna di suatu tempat yang tidak pernah benar-benar Rasa duga keberadaannya.

"Ini bukan nyata," gumamnya pada dirinya sendiri, meski setiap inci ruangan ini terasa lebih nyata daripada apa pun yang pernah ia alami sejak kematian Kirana.

"Nyata itu kata yang rumit di sini, Bu."

Suara itu datang dari belakangnya, dan ketika Rasa berbalik, jantungnya nyaris berhenti melihat Kirana berdiri di sana—bukan lagi kabut berkilau tanpa bentuk seperti di ruangan bawah tanah, melainkan Kirana yang utuh, delapan tahun, mengenakan baju tidur bermotif bintang yang sama seperti yang ia kenakan pada malam terakhir yang Rasa ingat bersamanya di rumah lama mereka.

Rasa jatuh berlutut, tangannya terulur meski takut menyentuh sesuatu yang mungkin hanya ilusi yang akan hancur begitu disentuh. "Kirana," bisiknya, air mata sudah membanjiri wajahnya sebelum ia sempat menahannya. "Apa ini benar-benar kamu?"

"Sebagian," kata Kirana, mendekat, dan ketika tangan kecilnya menyentuh pipi Rasa, sensasinya terasa nyata, hangat, persis seperti yang selalu Rasa rindukan selama satu tahun terakhir. "Bagian dariku yang tertinggal di sini, saat mereka melakukan sesuatu yang salah pada hari itu. Bagian yang lain sudah pergi, ke mana pun orang pergi setelah mati sepenuhnya."

"Apa kamu kesakitan? Selama ini, terjebak di sini?" tanya Rasa, suaranya penuh kekhawatiran seorang ibu yang tidak pernah benar-benar berhenti, bahkan di tempat seperti ini yang tidak seharusnya nyata.

Kirana menggeleng pelan, matanya menatap sekeliling ruangan ilusi itu dengan ekspresi yang sulit dibaca—bukan penderitaan, namun juga bukan sepenuhnya damai. "Tidak seperti kesakitan yang Ibu bayangkan. Lebih seperti menunggu, terus-menerus, tanpa tahu menunggu apa. Kadang aku bisa mendengar suara dari dunia luar, samar-samar, seperti radio yang sinyalnya buruk. Aku dengar suara Ibu beberapa kali, memanggil namaku di malam hari."

Lihat selengkapnya