ENTROPI

Bobby Mahmud
Chapter #20

BAB 20 — Pilihan yang Ditawarkan

Ruang di sekitar mereka mulai bergetar, dinding dapur ilusi itu retak seperti kaca yang dipukul, memperlihatkan kilasan-kilasan tempat lain di baliknya—pantai tempat mereka berfoto bertiga, kamar tidur Kirana yang penuh gambar krayon di dinding, dan di kejauhan, sesuatu yang lebih gelap, ruangan berdinding logam yang sama tempat semua ini bermula. Di salah satu retakan, Rasa sempat melihat sekilas warung Bu Tini, Adam duduk di meja pojok pada hari pertama mereka bertemu, seolah tempat ini menyimpan bukan hanya ingatan lama, tapi juga ingatan yang baru saja terbentuk di Girimulya.

Di retakan lain, sekilas ia melihat dirinya sendiri, bertahun-tahun lebih muda, tersenyum di hari pernikahannya, wajah suaminya penuh kebahagiaan yang tulus meski sekarang Rasa tahu ada rahasia yang sudah dibawanya sejak awal hubungan mereka. Kilasan itu lenyap secepat munculnya, digantikan retakan lain yang menunjukkan gambar-gambar yang bahkan tidak sepenuhnya Rasa kenali, mungkin ingatan orang lain yang pernah tersambung ke sistem yang sama sebelumnya.

"Waktu kita tidak banyak," kata Kirana, berdiri, matanya menatap sekeliling yang mulai runtuh dengan ketenangan yang aneh untuk situasi seburuk ini. "Sistem yang Ibu sambungkan diri padanya sedang mencoba memutuskan apa yang harus dilakukan dengan Ibu. Ia bisa merasakan resonansi Ibu, sama seperti dulu merasakan resonansiku."

"Apa maksudmu, memutuskan apa yang harus dilakukan?"

Kirana menggenggam tangan Rasa lebih erat, wajahnya menampakkan ketakutan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali. "Aku sudah pernah melihat ini terjadi sebelumnya, Bu. Bukan padaku, tapi pada bagian-bagian lain yang tertinggal di sini, dari orang-orang lain yang pernah tersambung ke sistem ini sebelum Ibu. Sistem ini selalu memberi pilihan, tapi pilihannya tidak pernah benar-benar adil."

Sebuah suara lain muncul, bukan suara Kirana, melainkan sesuatu yang lebih mekanis, netral, seolah berasal dari sistem itu sendiri berbicara langsung ke pikiran Rasa. Dua pilihan tersedia untuk subjek R.A. Pilihan pertama: pemutusan ikatan emosional dengan sumber resonansi sekunder, K.A. Efek: penghentian kebocoran entropi di lingkungan eksternal, hilangnya ingatan terkait subjek K.A. secara permanen. Pilihan kedua: integrasi penuh dengan struktur ketidakstabilan. Efek: penyatuan dengan sumber resonansi sekunder, ketidakpastian mengenai kelangsungan kesadaran subjek R.A. di dunia fisik.

Rasa merasakan dadanya sesak mendengar pilihan itu diucapkan sedatar itu, seolah bukan tentang hidupnya sendiri dan putrinya, melainkan tentang variabel-variabel dalam sebuah eksperimen. "Pilihan pertama berarti aku melupakan Kirana selamanya," katanya, lebih pada dirinya sendiri untuk memastikan ia memahaminya dengan benar. "Pilihan kedua berarti aku mungkin tidak akan kembali ke dunia nyata sama sekali."

Ia memikirkan Adam yang menunggu di luar sana, kabel yang tersambung di pelipisnya sendiri, mempertaruhkan hidupnya demi tidak membiarkan Rasa sendirian dalam hal ini. Ia memikirkan Pak Wirya, yang jari-jarinya mungkin sedang gemetar di atas tombol darurat, siap menariknya keluar kapan saja diperlukan. Dua pilihan yang ditawarkan sistem ini terasa seperti dua bentuk kematian yang berbeda—satu kematian atas ingatan, satu lagi kematian atas kehadiran fisik—dan tidak satu pun dari keduanya terasa seperti jalan keluar yang benar.

"Ibu," kata Kirana, mendekat lagi, menggenggam kedua tangan Rasa. "Aku tidak mau Ibu memilih yang kedua. Aku tidak mau Ibu terjebak di sini bersamaku, tidak pernah benar-benar hidup lagi."

Lihat selengkapnya