ENTROPI

Bobby Mahmud
Chapter #21

BAB 21 — Menerima yang Retak

Sistem itu terdiam untuk waktu yang terasa sangat lama, kegelapan di sekeliling mereka berdenyut seolah sedang memproses sesuatu yang tidak pernah dipertimbangkan sebelumnya dalam seluruh rancangannya. Dinding-dinding ilusi yang tadi retak mulai stabil kembali, meski tidak sepenuhnya utuh, membentuk semacam ruang antara yang baru—tidak lagi dapur rumah lama mereka, tidak pula ruangan bawah tanah, melainkan sesuatu yang lebih menyerupai taman kecil yang tenang, dengan cahaya lembut yang tidak berasal dari sumber tertentu.

Rasa merasakan udara di sekitarnya berubah, tidak lagi dingin dan mencekam seperti sebelumnya, melainkan hangat, hampir seperti sore hari di teras rumah lama mereka, ketika mereka biasa duduk bersama menunggu matahari terbenam tanpa perlu melakukan apa pun selain hadir bersama.

Bunga-bunga tumbuh di sekeliling mereka, bukan bunga nyata namun cukup detail untuk terasa nyata—melati yang biasa ditanam Ibu Sarni di halamannya, kembang sepatu merah yang tumbuh liar di pinggir jalan Girimulya, seolah taman ini secara diam-diam menyerap fragmen-fragmen dari kehidupan baru yang Rasa bangun tanpa sadar selama delapan bulan terakhir.

"Aku merasakannya," kata Kirana, tiba-tiba, matanya membesar. "Sesuatu berubah, Bu. Rasanya seperti—seperti sistem ini akhirnya mendengarkan, bukan cuma menghitung."

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Rasa, meraih tangan putrinya, tidak ingin menyia-nyiakan detik yang tersisa.

"Aku rasa," kata Kirana, pelan, "kita cuma perlu ada di sini bersama, sebentar saja, sebelum semuanya berubah. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, Bu, tapi aku tidak takut lagi. Aku pikir aku sudah menunggu untuk ini, entah bagaimana, tanpa benar-benar tahu aku menunggunya."

Rasa berlutut di hadapan putrinya, menatap matanya dalam-dalam, mencoba menyerap setiap detail wajah itu selagi masih bisa, seandainya ini kesempatan terakhirnya. "Aku menyesal," katanya, suaranya bergetar namun tulus. "Menyesal tidak cukup hadir di tahun-tahun terakhir hidupmu, terlalu sibuk dengan pekerjaan, terlalu sering meninggalkanmu menunggu sendirian. Aku menyesal tidak melindungimu dari apa pun yang terjadi hari itu. Dan aku menyesal, setelah kau pergi, memilih menutup diri dari dunia alih-alih benar-benar berduka untukmu."

"Aku tahu, Bu," kata Kirana, memeluknya erat. "Aku selalu tahu Ibu mencintaiku, bahkan di malam-malam Ibu pulang terlambat. Itu yang membuatku selalu menunggu, bukan karena aku marah, tapi karena aku tahu Ibu pasti pulang."

"Aku juga menyesal soal cangkir kedua itu," kata Rasa, tersenyum lemah di tengah air matanya. "Aku menuangnya setiap pagi, lalu membuangnya, seolah tidak berani mengakui pada diriku sendiri bahwa aku masih menunggumu juga, dengan caraku sendiri yang aneh."

Kirana tertawa kecil, suara yang begitu familiar hingga membuat dada Rasa terasa penuh sekaligus kosong pada saat yang sama. "Aku tahu soal itu, Bu. Aku selalu ada di sana, setiap pagi, meski Ibu tidak bisa melihatku. Setidaknya sekarang aku tahu Ibu tahu."

Lihat selengkapnya