ENTROPI

Bobby Mahmud
Chapter #22

BAB 22 — Kembali ke Dunia Nyata

Kesadaran Rasa kembali dengan sensasi yang terasa seperti terlempar keluar dari air dingin ke udara terbuka, napasnya tersengal ketika matanya membuka paksa, menangkap cahaya lampu darurat ruang kontrol yang berkedip stabil, jauh lebih tenang dari kekacauan yang mereka saksikan sebelumnya. Tubuhnya terasa berat, setiap ototnya seperti baru saja menempuh perjalanan panjang meski ia tidak pernah benar-benar bergerak dari kursi logam itu, dan kepalanya berdenyut pelan seperti sisa dari sesuatu yang sangat intens baru saja terjadi.

"Rasa!" Suara Adam terdengar begitu dekat, tangannya sudah bergerak melepas kabel dari pelipisnya sendiri untuk segera membantu Rasa, wajahnya penuh kelegaan yang bercampur kekhawatiran yang belum sepenuhnya reda. "Anda bisa mendengar saya?"

"Ya," bisiknya, suaranya serak seperti tidak digunakan selama berhari-hari, meski ia tahu hanya beberapa menit yang berlalu di dunia nyata, mungkin kurang, meski di dalam ruang ilusi tadi terasa seperti waktu yang jauh lebih panjang. "Aku di sini. Aku kembali."

Pak Wirya berdiri di dekat panel kontrol, wajahnya pucat namun matanya berkaca-kaca oleh kelegaan, tangan yang tadi siap menekan tombol darurat kini gemetar lega karena tidak perlu digunakan. "Kami hampir menarik Anda keluar paksa," katanya. "Alat pemantau menunjukkan lonjakan yang mengerikan, lalu tiba-tiba semuanya mulai stabil, seolah badai yang tiba-tiba reda."

"Berapa lama saya tidak sadar?" tanya Rasa, mencoba mengingat urutan waktu yang terasa kabur antara dunia ilusi dan dunia nyata.

"Sekitar dua puluh menit," kata Adam. "Tapi rasanya seperti berjam-jam bagi kami yang menunggu di sini, tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Anda di dalam sana."

"Ada momen ketika kabel Anda hampir terlepas sendiri," kata Pak Wirya, masih dengan suara bergetar mengingat kejadian itu. "Kami sempat berteriak memanggil nama Anda, tapi Anda tidak merespons sama sekali. Saya kira jantung saya berhenti sebentar waktu itu."

"Saya minta maaf membuat kalian ketakutan seperti itu," kata Rasa, menggenggam tangan Pak Wirya sejenak. "Saya tidak sepenuhnya sadar berapa lama waktu berlalu di sini sementara saya di dalam sana."

"Yang penting Anda kembali," kata Adam, suaranya masih sedikit bergetar oleh sisa kekhawatiran. "Itu satu-satunya yang kami pedulikan saat itu."

Rasa mencoba duduk tegak, tubuhnya terasa lemah seperti baru bangun dari sakit yang panjang, namun ada sesuatu yang berbeda di dalam dirinya—bukan lagi kekosongan yang selama ini ia bawa sejak kematian Kirana, melainkan semacam kepenuhan yang menyakitkan sekaligus menenangkan, seperti luka yang akhirnya dibersihkan dengan benar setelah dibiarkan terinfeksi terlalu lama.

"Apa yang Anda lihat di sana?" tanya Adam, suaranya penuh rasa ingin tahu yang tertahan, tidak ingin memaksa namun juga tidak sanggup menahan diri untuk bertanya.

Lihat selengkapnya