ENTROPI

Bobby Mahmud
Chapter #23

BAB 23 — Fajar di Girimulya

Matahari sudah sepenuhnya terbit ketika mereka mencapai kaki Bukit Ler, cahayanya keemasan menyinari lereng yang semalam diselimuti kekacauan, dan untuk pertama kalinya sejak Rasa tiba di Girimulya, udara di sekitar mereka terasa benar-benar tenang, tidak ada dengungan aneh, tidak ada rasa berat yang biasa menyertai setiap perjalanan ke arah bukit ini. Burung-burung mulai berkicau di antara pepohonan, suara yang begitu biasa namun terasa asing setelah berminggu-minggu suasana desa dipenuhi ketegangan yang tidak pernah benar-benar mereda.

Pak Wirya berhenti sejenak di pertengahan jalan, menatap ke belakang ke arah gerbang besi yang kini tertinggal jauh di belakang mereka, wajahnya menampakkan sesuatu yang menyerupai kelegaan yang bercampur kesedihan lama. "Kakek saya berjalan di jalan ini ribuan kali," katanya, lebih pada dirinya sendiri. "Selalu dengan ketakutan yang tidak pernah bisa ia bagikan pada siapa pun. Saya senang bisa berjalan di jalan yang sama tanpa ketakutan itu lagi."

Rasa berjalan mendekatinya, meletakkan tangan di pundak lelaki tua itu. "Kakek Anda menjaga rahasia ini selama bertahun-tahun, sendirian, untuk melindungi keluarganya," katanya. "Itu bukan kelemahan, Pak Wirya. Itu bentuk kasih sayang yang tidak selalu tahu cara terbaik untuk diungkapkan."

Pak Wirya mengangguk, matanya berkaca-kaca namun langkahnya kembali mantap saat mereka melanjutkan perjalanan turun.

Adam berjalan di sisi lain Rasa, memperhatikan langkahnya yang masih agak goyah. "Anda yakin sanggup berjalan sejauh ini?" tanyanya, khawatir.

"Saya sanggup," kata Rasa, tersenyum meski lelah. "Setelah semua yang baru saja terjadi, berjalan turun bukit terasa seperti hal termudah yang pernah saya lakukan."

Perjalanan turun menuju desa terasa seperti perjalanan yang sama sekali berbeda dari yang mereka lalui semalam—pepohonan di pinggir jalan yang kemarin daunnya menguning dan rontok kini tampak segar kembali, beberapa bahkan mulai menumbuhkan pucuk-pucuk hijau baru, seolah alam sendiri ikut bernapas lega bersama mereka. Suara serangga pagi mulai terdengar kembali, sesuatu yang selama beberapa hari terakhir seolah lenyap dari desa yang dicengkeram ketakutan.

Ketika mereka memasuki desa, pemandangan yang menyambut mereka jauh dari yang mereka bayangkan setelah kekacauan semalam. Warga berkumpul di jalan utama, bukan lagi dengan wajah ketakutan, melainkan dengan ekspresi tercengang yang perlahan berubah menjadi kelegaan—rumah-rumah yang semalam runtuh kini tidak bertambah parah, dan yang lebih mengejutkan, beberapa kerusakan kecil di rumah-rumah lain tampak seperti mulai membaik dengan sendirinya, cat yang mengelupas tidak lagi menyebar, retakan di dinding tidak lagi melebar.

Anak kecil yang mereka selamatkan dari reruntuhan semalam berlari mendekat, digandeng ibunya, wajahnya sudah tidak lagi menunjukkan ketakutan seperti semalam, hanya rasa ingin tahu yang polos khas anak-anak. Ia menyerahkan setangkai bunga liar yang baru saja ia petik di pinggir jalan, tanpa kata-kata, hanya senyum kecil yang mengatakan lebih banyak daripada kalimat apa pun yang bisa diucapkan.

Rasa berjongkok, menerima bunga itu dengan kedua tangan, matanya berkaca-kaca menatap anak itu. "Terima kasih, Sayang," katanya, suaranya lembut. "Bunga ini indah sekali."

Lihat selengkapnya