ENTROPI

Bobby Mahmud
Chapter #24

BAB 24 — Yang Tersisa dan Yang Baru

Tiga hari setelah malam di ruang kontrol, tim dari lembaga yang sama datang ke Girimulya, kali ini secara terbuka, dengan beberapa kendaraan dan peralatan yang jelas menunjukkan mereka bukan lagi beroperasi secara diam-diam. Wanita misterius itu, yang akhirnya memperkenalkan diri sebagai Dr. Amara Wastuti, memimpin tim itu sendiri, wajahnya menunjukkan sikap yang jauh lebih terbuka dibanding pertemuan pertama mereka.

Balai desa yang tiga hari lalu penuh sesak oleh warga ketakutan kini hanya diisi beberapa orang saja—Rasa, Adam, Pak Wirya, dan Dr. Wastuti, duduk mengelilingi meja panjang yang biasanya digunakan untuk rapat rukun tetangga. Suasana jauh berbeda dari malam pertemuan warga yang penuh kepanikan itu, tenang dan penuh harapan meski masih menyisakan kehati-hatian.

"Kami memutuskan untuk tidak menghancurkan fasilitas itu," katanya, duduk di balai desa bersama Rasa, Adam, dan Pak Wirya, map tebal berisi laporan baru tergeletak di depannya. "Apa yang Anda temukan, Ibu Adiwangsa, terlalu berharga untuk dihapus begitu saja. Kami akan mengubahnya menjadi fasilitas penelitian trauma yang etis, dengan protokol baru yang dibangun dari apa yang Anda ajarkan pada kami—bahwa penerimaan, bukan penghapusan, adalah jalan yang lebih manusiawi."

"Apa yang membuat Anda yakin lembaga Anda benar-benar berubah?" tanya Rasa, suaranya tegas meski tidak bermusuhan. "Bagaimana saya tahu ini bukan sekadar pengulangan dari kesalahan yang sama dengan wajah baru?"

Dr. Wastuti tidak langsung menjawab, tampak mempertimbangkan kata-katanya dengan hati-hati. "Anda tidak bisa yakin sepenuhnya," katanya jujur. "Tapi saya bisa menjanjikan pengawasan independen, termasuk dari warga Girimulya sendiri, dan laporan transparan setiap enam bulan. Kalau kami mengulangi kesalahan yang sama, Anda dan Pak Wirya berhak menghentikan kerja sama ini kapan saja."

"Dengan syarat?" tanya Adam, tetap waspada meski nada suara Dr. Wastuti terdengar tulus.

"Dengan syarat kami diberi izin untuk mempelajari kasus Ibu Adiwangsa lebih jauh, secara sukarela, dengan persetujuan penuh dan tanpa paksaan apa pun," kata Dr. Wastuti. "Dan dengan syarat kami memberi kompensasi penuh pada setiap warga Girimulya yang dirugikan selama dua puluh tiga tahun keberadaan fasilitas ini, termasuk keluarga Sastro Wiryanto."

Pak Wirya terdiam mendengar nama kakeknya disebut, matanya berkaca-kaca namun ia mengangguk pelan, menerima pengakuan yang sudah terlambat namun tetap berarti setelah bertahun-tahun keluarganya menanggung beban diam-diam.

"Kakek saya meninggal tanpa pernah mendapat pengakuan seperti ini," katanya, suaranya bergetar. "Dia hanya penjaga keamanan biasa yang kebetulan tahu terlalu banyak. Mendengar namanya disebut dengan hormat, bukan sebagai orang gila yang menyimpan cerita aneh, itu berarti lebih dari yang bisa saya ungkapkan."

"Kompensasi seperti apa yang Anda maksud?" tanya Rasa, ingin memastikan ini bukan sekadar janji kosong seperti yang mungkin pernah dijanjikan lembaga ini di masa lalu.

Lihat selengkapnya