Seminggu setelah pertemuan di balai desa, Rasa dan Adam kembali menempuh perjalanan tiga jam yang sama menuju rumah dr. Wibisono, kali ini tanpa ketegangan yang dulu memenuhi setiap kilometer perjalanan pertama mereka. Mobil yang mereka kendarai bukan lagi mobil tua Pak Wirya, melainkan salah satu kendaraan yang disediakan Dr. Wastuti untuk keperluan transisi, sesuatu yang terasa aneh bagi Rasa—duduk di kursi penumpang yang empuk, ber-AC, menuju sebuah pertemuan yang beberapa minggu lalu terasa seperti interogasi, namun kali ini terasa seperti sesuatu yang lebih dekat pada rekonsiliasi.
Jalanan yang dulu terasa begitu panjang dan mencekam kini tampak berbeda di mata Rasa, meski aspalnya sama, tikungannya sama. Ia menatap pemandangan yang berlalu di luar jendela dengan cara yang jauh lebih tenang dari sebelumnya, memperhatikan hal-hal kecil yang dulu luput dari perhatiannya—petani yang menjemur cengkeh di pinggir jalan, anak-anak sekolah yang berjalan berkelompok dengan tas ransel lebih besar dari tubuh mereka sendiri.
"Anda terlihat lebih tenang dari perjalanan pertama kita," kata Adam, sesekali melirik ke arahnya sambil tetap fokus pada jalan yang berkelok.
"Saya rasa memang begitu," kata Rasa. "Waktu itu saya datang untuk menuntut jawaban dari orang yang saya anggap ikut bersalah atas kematian Kirana. Sekarang saya datang untuk membagikan sesuatu yang, saya harap, bisa meringankan bebannya seperti kebenaran meringankan beban saya."
Kebun sayur di depan rumah dr. Wibisono tampak sedikit lebih rimbun dari kunjungan pertama, seolah waktu telah berjalan lebih jauh dari yang sebenarnya terjadi—bayam dan kangkung tumbuh subur dalam petak-petak yang tertata rapi, beberapa pohon cabai yang mulai berbuah merah di antara dedaunan hijau. Lelaki tua itu membuka pintu dengan wajah yang segera berubah waspada begitu mengenali mereka, matanya bergerak cepat mencari tanda-tanda kabar buruk sebelum akhirnya menemukan sesuatu yang lebih tenang di wajah Rasa.
"Saya kira Anda tidak akan kembali," katanya, mempersilakan mereka masuk dengan tangan yang masih sedikit gemetar, meski kali ini bukan karena ketakutan yang sama seperti sebelumnya. "Setelah semua yang saya akui waktu itu."
"Saya kembali bukan untuk menuntut lebih banyak," kata Rasa, duduk di kursi yang sama seperti kunjungan pertama, ruang tamu yang sama, foto keluarga yang sama tersusun di rak kayu, meski kali ini ia memperhatikan detail yang dulu terlewat—sebuah foto kecil di sudut rak, dr. Wibisono yang jauh lebih muda mengenakan jas dokter, berdiri di depan sebuah rumah sakit yang tidak ia kenali. "Saya kembali untuk memberi tahu Anda bahwa apa yang Anda berikan waktu itu—map, kejujuran Anda—itu yang akhirnya membawa saya pada jawaban yang saya cari."
Ia menceritakan semuanya, atau setidaknya bagian-bagian yang bisa ia ceritakan tanpa harus menjelaskan detail teknis yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya pahami—tentang ruang kontrol, tentang Kirana, tentang pilihan ketiga yang ia temukan di tengah dua opsi yang sama-sama terasa seperti kehilangan. Ia bercerita perlahan, memilih kata-katanya dengan hati-hati, sadar bahwa lelaki tua di hadapannya telah membawa versi kelam dari cerita ini selama dua puluh tiga tahun, dan ia tidak ingin menambah beban itu dengan detail yang terlalu teknis atau terlalu menyakitkan untuk dibayangkan.
Dr. Wibisono mendengarkan dalam diam, tangannya menggenggam cangkir tehnya erat-erat, air matanya beberapa kali hampir jatuh namun ia tahan dengan susah payah, seperti seseorang yang sudah lama lupa bagaimana caranya menangis di depan orang lain. Sesekali ia mengangguk pelan, matanya menerawang ke suatu tempat yang jauh, seolah membayangkan kembali detik-detik terakhir yang pernah ia saksikan bertahun-tahun lalu, kini dilihat dari sudut pandang yang sama sekali baru.
Di tengah cerita Rasa, dr. Wibisono tiba-tiba berdiri, berjalan pelan menuju jendela ruang tamunya, menatap kebun sayurnya sendiri tanpa benar-benar melihatnya. "Setiap kali saya menanam sesuatu di kebun itu," katanya, punggungnya masih membelakangi mereka, "saya selalu berpikir tentang seberapa sederhana seharusnya hidup ini bisa berjalan—menanam, menyiram, memanen, tanpa perlu menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan orang lain. Saya pikir dengan pensiun dan menanam sayur, saya bisa mengubur bagian diri saya yang pernah menandatangani laporan itu. Ternyata tidak semudah itu. Rahasia tidak terkubur hanya karena kita berhenti menyebutnya."