ENTROPI

Bobby Mahmud
Chapter #26

BAB 26 — Pembangunan Kembali

Tiga bulan berlalu sejak malam Girimulya nyaris runtuh, dan desa kecil itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh berbeda dari yang pernah Rasa bayangkan ketika pertama kali memutuskan pindah ke sana untuk menghilang. Rumah nomor tujuh belas, yang dulu menjadi tanda pertama dari kutukan yang menyelimuti kota ini, kini berdiri kembali dengan kayu baru dan cat segar, dikerjakan oleh tim konstruksi yang didanai penuh oleh lembaga Dr. Wastuti, disaksikan Ibu Sarni yang menangis haru ketika kunci rumah barunya diserahkan pada sebuah upacara kecil di halaman depan.

Rasa berdiri di antara kerumunan warga yang berkumpul untuk menyaksikan peresmian rumah itu, matanya menyapu wajah-wajah yang kini ia kenali satu per satu—bukan lagi orang-orang asing yang kebetulan tinggal di kota tempat ia bersembunyi, melainkan tetangga, hampir seperti keluarga yang terbentuk dari luka yang mereka lalui bersama. Darto berdiri di antara kerumunan, anaknya kini tumbuh lebih tinggi, tidak lagi gemetar ketakutan seperti malam ekspedisi pertama mereka ke Bukit Ler, tersenyum lebar ketika Ibu Sarni memotong pita di depan pintu rumah barunya.

Bu Tini berdiri di sampingnya, warungnya kini telah diperluas dengan beberapa meja tambahan, ramai oleh warga yang datang bukan hanya untuk kopi, melainkan juga untuk sekadar berkumpul, bercerita, menertawakan hal-hal kecil seperti yang biasa dilakukan komunitas yang sudah pulih dari trauma bersama. Radio tua di sudut warungnya telah diganti dengan yang baru, meski Bu Tini bersikeras menyimpan yang lama di rumahnya, katanya sebagai kenang-kenangan dari masa-masa yang, meski sulit, juga membentuk siapa mereka sekarang.

Pak Yudi, yang kini menjabat sebagai penghubung resmi antara desa dan lembaga di kota kecamatan, berdiri tidak jauh dari sana, sibuk mengatur kursi-kursi tambahan bersama beberapa pemuda desa yang direkrut sebagai relawan. Ia menyapa Rasa dengan senyum lebar, jauh berbeda dari wajah pucat ketakutan yang selalu Rasa ingat dari malam-malam darurat bertahun-tahun lalu. "Saya masih ingat malam pertama kita ke bukit itu," katanya, tertawa kecil. "Saya kira saat itu karier saya akan berakhir karena tidak sanggup menjelaskan apa pun pada atasan saya. Sekarang saya justru diminta menulis laporan tentang keberhasilan program ini untuk provinsi."

"Karena Bapak bertahan," kata Rasa, "meski Bapak juga ketakutan seperti kami semua."

Ibu Sarni mendekat membawa nampan berisi kue-kue kecil, hasil buatannya sendiri di dapur baru yang kini jauh lebih luas dari rumahnya yang dulu. "Coba ini," katanya, menyodorkan sepiring kue lapis pada Rasa dan Adam. "Resep dari nenek saya. Saya baru berani membuatnya lagi sekarang, setelah dapur saya berdiri kembali."

Pak Wirya berdiri di podium kecil yang didirikan di halaman balai desa, memimpin upacara sederhana untuk meresmikan sebuah plakat kecil yang akan dipasang di pintu masuk fasilitas di bawah Bukit Ler—bukan lagi gerbang berkarat yang menakutkan, melainkan pintu baru yang dibangun dengan desain yang lebih terbuka, dikelilingi taman kecil yang ditanam oleh warga sendiri sebagai simbol pemulihan, dengan bunga-bunga yang sama seperti yang tumbuh liar di sepanjang jalan menuju bukit itu.

Lihat selengkapnya