ENTROPI

Bobby Mahmud
Chapter #27

BAB 27 — Bayang yang Kembali Sebentar

Dua tahun sejak kematian Kirana jatuh pada sebuah hari Kamis yang cerah, dan Rasa bangun pagi itu dengan perasaan berat yang tidak sepenuhnya bisa ia jelaskan, meski ia sudah menduga akan datang sejak beberapa hari sebelumnya, sejak kalender di dapurnya mulai mendekati tanggal yang selama setahun terakhir selalu ia hindari untuk dilihat langsung, seolah menghindari angka-angka kecil itu bisa menunda datangnya hari yang tidak mungkin ditunda.

Ia berbaring sejenak di tempat tidurnya sebelum bangun sepenuhnya, menatap langit-langit kamar yang mulai diterangi cahaya pagi yang menyusup lewat celah gorden, mendengarkan suara ayam tetangga dan kicau burung yang sudah begitu akrab baginya sekarang, mencoba mengukur perasaannya sendiri sebelum benar-benar menghadapi hari ini—bukan lagi ketakutan yang membeku seperti dulu, melainkan semacam kesedihan yang familiar, seperti sahabat lama yang datang berkunjung setahun sekali, tidak selalu menyenangkan namun tidak lagi menakutkan.

Ia teringat, berbaring di sana, bagaimana dulu ia menghabiskan hari-hari seperti ini dengan menutup diri sepenuhnya, mematikan telepon, menolak makan, membiarkan dirinya tenggelam dalam kegelapan kamar sepanjang hari tanpa membiarkan siapa pun masuk. Tahun ini terasa berbeda—bukan karena kesedihannya lebih kecil, melainkan karena ia tidak lagi merasa perlu menghadapinya sendirian, tidak lagi merasa bahwa berduka berarti harus mengasingkan diri dari dunia yang terus berjalan di luar jendelanya.

Ia bangun perlahan, menyibak gorden, membiarkan cahaya pagi memenuhi kamarnya sepenuhnya, sebuah gestur kecil yang dulu terasa mustahil pada hari-hari seperti ini, namun kini terasa seperti bagian alami dari ritualnya sendiri untuk menyambut hari yang berat dengan cara yang lebih sehat.

Ia menuang dua cangkir kopi seperti biasa, namun tangannya sedikit gemetar pagi itu, dan ketika ia duduk di meja dapur menatap uap yang mengepul dari kedua cangkir, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan kembali muncul—rasa dingin kecil yang menjalar di tengkuknya, familiar namun tidak lagi menakutkan seperti dulu, lebih seperti bayangan lama yang singgah sebentar sebelum pergi lagi.

Cangkir kedua, yang biasanya tenang di atas meja, bergetar pelan tanpa sebab yang jelas, riak-riak kecil muncul di permukaan kopinya seolah ada sesuatu yang menyentuhnya dari dalam. Rasa menatapnya lama, jantungnya berdebar bukan karena takut, melainkan karena mengenali sensasi itu—sesuatu yang mirip dengan getaran kecil yang dulu selalu mendahului kemunculan kabut berkilau di ruangan bawah tanah, meski jauh lebih kecil, jauh lebih lemah, seperti gema dari sesuatu yang jauh lebih besar yang pernah terjadi.

Ia tidak panik. Ia belajar, selama setahun ini, untuk tidak lagi bereaksi dengan ketakutan pada setiap tanda kecil yang mengingatkannya pada masa lalu. Ia menutup matanya sejenak, menarik napas dalam, membiarkan dirinya benar-benar merasakan apa yang muncul—bukan menolaknya, bukan pula membiarkannya menguasai dirinya, melainkan menyambutnya dengan cara yang sudah ia pelajari di ruang kontrol setahun lalu, seperti membuka pintu untuk tamu lama yang datang tanpa diundang namun tidak lagi dianggap sebagai ancaman.

"Selamat pagi, Sayang," bisiknya pada cangkir kedua, suaranya lembut, tidak ada lagi kepanikan yang dulu selalu menyertai kebiasaan itu. "Ibu tahu ini hari yang berat untuk kita berdua."

Getaran kecil itu perlahan mereda, riak di permukaan kopi menghilang, dan Rasa duduk diam sejenak, membiarkan air matanya jatuh tanpa dilawan, sebuah tangisan yang berbeda dari tangisan-tangisan sebelumnya—bukan tangisan keputusasaan, melainkan tangisan yang datang dari cinta yang masih hidup, yang tidak pernah benar-benar ingin ia hentikan, mengalir perlahan seperti hujan gerimis yang datang tanpa badai.

Lihat selengkapnya