ENTROPI

Bobby Mahmud
Chapter #28

BAB 28 — Yang Tidak Perlu Ditakuti Lagi

Minggu-minggu setelah hari peringatan kematian Kirana berlalu dengan tenang, ritme kehidupan Girimulya kembali normal—Rasa mengajar kelas melukis kecil untuk anak-anak desa setiap Sabtu pagi, sesuatu yang mulai ia tekuni sejak beberapa bulan lalu atas saran Ibu Sarni, sementara Adam sibuk menyusun protokol pengawasan baru bersama tim kecil di fasilitas. Hidup terasa hampir biasa, hampir membosankan dengan cara yang menyenangkan, sampai suatu sore telepon dari Dr. Wastuti mengubah suasana itu seketika.

Beberapa minggu setelah hari peringatan itu, Dr. Wastuti kembali ke Girimulya membawa kabar yang membuat seluruh tim kecil di balai desa berkumpul dengan tegang—laporan dari salah satu mantan anggota lembaga lama, seseorang yang tidak setuju dengan arah baru yang diambil setelah kasus Rasa, mencoba mengakses arsip lama fasilitas melalui jalur tidak resmi, kemungkinan berniat menghidupkan kembali sebagian dari eksperimen yang telah dihentikan.

Pak Wirya membuka pertemuan itu dengan wajah tegang, mengetuk-ngetukkan pena di atas buku catatannya, sementara Rasa dan Adam duduk berdampingan, saling melirik sejenak sebelum kembali menatap Dr. Wastuti yang baru saja tiba dari kota dengan wajah yang jauh lebih serius dari kunjungan-kunjungan sebelumnya.

"Kami sudah mengamankan aksesnya," kata Dr. Wastuti, duduk di meja yang sama tempat mereka pertama kali membicarakan kesepakatan transisi, map tebal berisi laporan keamanan tergeletak di depannya, halaman-halamannya penuh dengan catatan yang sebagian ditandai dengan spidol merah. "Tapi ini pengingat bahwa tidak semua orang di lembaga kami setuju dengan perubahan arah ini. Ada yang masih percaya bahwa yang kami temukan tentang resonansi dan entropi lokal bisa 'dioptimalkan', kata mereka, tanpa perlu melibatkan penerimaan emosional seperti yang Anda ajarkan."

Rasa mendengarkan dengan rahang mengeras, ketakutan lama yang sempat mereda kembali muncul sejenak, namun kali ini bukan ketakutan yang melumpuhkan seperti dulu, melainkan kewaspadaan yang lebih tenang, lebih terkendali, sesuatu yang lebih menyerupai kemarahan yang terarah daripada kepanikan yang membutakan. "Apa yang bisa kita lakukan?" tanyanya, suaranya mantap.

"Kami sudah memperkuat protokol keamanan, dan orang itu sudah diberhentikan secara resmi," kata Dr. Wastuti. "Tapi saya pikir Anda dan Pak Wirya berhak tahu, karena keduanya sekarang punya hak pengawasan penuh atas apa pun yang terjadi di fasilitas ini. Saya tidak ingin ada lagi rahasia di antara kita, sekecil apa pun itu."

Pak Wirya mengangguk tegas, mencatat sesuatu di buku kecil yang selalu ia bawa sejak menjadi perwakilan warga, tulisannya rapi meski tergesa. "Saya akan minta laporan detail setiap bulan," katanya, "dan saya akan pastikan warga tahu setiap perkembangan, bukan hanya yang baik. Kita sudah cukup lama hidup dalam kebohongan yang dibungkus sebagai perlindungan. Saya tidak mau mengulanginya, bahkan dengan niat baik sekalipun."

"Saya setuju," kata Adam, menatap Dr. Wastuti lurus-lurus. "Dan saya ingin akses langsung ke setiap komunikasi terkait insiden ini, bukan hanya ringkasan yang sudah disaring."

Dr. Wastuti mengangguk, tidak berdebat, mencatat permintaan itu di mapnya sendiri. "Itu hak Anda sebagai kepala divisi pengawasan," katanya. "Saya akan pastikan semuanya transparan sejak sekarang."

Lihat selengkapnya