ENTROPI

Bobby Mahmud
Chapter #29

BAB 29 — Pulang ke Makam

Beberapa minggu setelah malam mereka saling mengaku perasaan, Rasa merasa sesuatu yang telah lama tertunda mulai memanggilnya kembali—bukan ketakutan, melainkan kebutuhan untuk menyelesaikan satu babak terakhir yang belum sepenuhnya ia tutup. Ia menyampaikannya pada Adam suatu malam, sederhana namun jelas: ia perlu kembali ke makam suaminya, bukan untuk mencari jawaban baru, melainkan untuk menyampaikan apa yang sudah ia ketahui, secara langsung, dengan caranya sendiri.

Rasa memutuskan untuk kembali ke kota lamanya sekali lagi, tempat suaminya dimakamkan tidak lama setelah kematian Kirana, di bawah nisan yang bertuliskan kebohongan resmi tentang kecelakaan biasa, sesuatu yang kini terasa perlu ia perbaiki, meski hanya dengan cara yang bisa ia lakukan sendiri, tanpa mengubah catatan resmi yang mungkin akan membawa terlalu banyak pertanyaan yang tidak lagi relevan bagi siapa pun kecuali dirinya sendiri.

Adam menemaninya dalam perjalanan itu, duduk di kursi kemudi sementara Rasa menatap jalanan yang dulu sangat familiar baginya, kini terasa seperti kehidupan orang lain yang pernah ia jalani, jauh sebelum Girimulya, jauh sebelum semua yang terjadi di bawah Bukit Ler. Kota itu tampak sama seperti yang ia ingat, namun Rasa sendiri sudah menjadi orang yang sangat berbeda dari wanita yang dulu meninggalkannya delapan bulan lalu, membawa koper dan luka yang ia kira tidak akan pernah sembuh.

Sepanjang perjalanan, Adam sesekali bertanya tentang kota ini, tentang kehidupan Rasa sebelum semuanya berubah, dan Rasa mendapati dirinya bercerita dengan lebih ringan dari yang ia duga—tentang kafe kecil tempat ia dan suaminya sering menghabiskan akhir pekan, tentang taman kota tempat Kirana belajar naik sepeda untuk pertama kalinya, kenangan-kenangan yang dulu terlalu menyakitkan untuk diceritakan, kini terasa seperti hadiah kecil yang bisa ia bagikan tanpa rasa takut kehilangan lagi.

Perjalanan itu memakan waktu hampir lima jam, melewati beberapa kota kecil yang tidak pernah singgah dalam ingatannya sebelumnya, meski jalan yang sama pernah ia tempuh puluhan kali dulu, setiap kali mengunjungi keluarganya atau pergi bekerja ke luar kota. Ada sesuatu yang aneh dalam perjalanan ini, semacam kesadaran bahwa ia sedang menempuh dua perjalanan sekaligus—satu secara fisik, menuju kota lamanya, dan satu lagi secara batin, menuju bagian dari dirinya yang selama ini ia tinggalkan bersama luka yang belum terselesaikan.

Pemakaman itu tenang seperti biasa, dikelilingi pohon-pohon besar yang sudah tumbuh lebih rimbun sejak terakhir kali ia berkunjung, dan Rasa berjalan menyusuri jalan setapak yang sudah ia hafal di luar kepala menuju nisan suaminya, hatinya berdebar dengan campuran emosi yang tidak sepenuhnya bisa ia jelaskan—kemarahan yang sudah mereda, kesedihan yang masih ada, dan sesuatu yang baru, semacam pengertian yang dulu tidak pernah bisa ia rasakan.

Sebelum mencapai pemakaman, mobil mereka melewati jalan tempat rumah lama Rasa dan suaminya pernah berdiri, kini ditinggali keluarga lain yang mengecatnya warna biru muda, jauh berbeda dari warna krem yang dulu mereka pilih bersama. Rasa meminta Adam memperlambat laju mobil sejenak, menatap rumah itu dari balik kaca jendela, mengenali pot-pot bunga yang masih sama di teras, satu-satunya hal yang tersisa dari kehidupan lamanya di sana. Ia tidak meminta untuk berhenti. Melihatnya sekilas, ia sadar, sudah cukup.

Lihat selengkapnya