ENTROPI

Bobby Mahmud
Chapter #30

BAB 30 — Entropi

Satu tahun kemudian, Girimulya menyambut musim kemarau dengan langit biru cerah yang membentang di atas Bukit Ler, dan dari kejauhan, pusat penelitian yang dulu menjadi sumber ketakutan seluruh desa kini tampak seperti bangunan biasa, dikelilingi taman yang dirawat rapi, dengan anak-anak sekolah yang sesekali berkunjung untuk kegiatan belajar tentang kesehatan mental, sebuah ironi kecil yang tidak luput dari perhatian Rasa setiap kali ia melewatinya—bahwa tempat yang dulu nyaris menghancurkan segalanya, kini menjadi tempat yang mengajarkan anak-anak untuk memahami perasaan mereka sendiri.

Kehidupan Rasa sendiri kini mengikuti ritme yang jauh lebih tenang dari dua tahun sebelumnya—Sabtu pagi mengajar melukis untuk anak-anak desa di balai desa, sore-sore ditemani Adam menyusuri kebun kopi, dan malam-malam yang dihabiskan membaca atau sekadar duduk berdua menikmati keheningan yang tidak lagi terasa seperti kekosongan.

Rasa berdiri di halaman rumahnya pagi itu, menatap kebun kopi tetangga yang sudah ia kenal begitu akrab, kabut tipis yang belum sepenuhnya turun dari lereng bukit, sebuah pemandangan yang sama seperti pagi pertamanya di Girimulya dua tahun lalu, namun terasa begitu berbeda sekarang—bukan lagi pemandangan tempat persembunyian, melainkan pemandangan rumah yang sesungguhnya, tempat yang ia pilih untuk tinggal bukan karena melarikan diri, melainkan karena akhirnya menemukan alasan untuk berakar.

Ia menuang dua cangkir kopi seperti biasa, sebuah kebiasaan yang tidak pernah benar-benar ia tinggalkan, dan kini duduk di meja dapur bersama Adam yang sudah sepenuhnya menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari, rumah yang dulu terasa terlalu kecil untuk kehadiran orang lain kini dipenuhi tawa dan percakapan pagi yang hangat, jauh dari kesunyian yang dulu menyelimuti setiap sudutnya, dengan sepasang sepatu Adam yang kini selalu tertata rapi di dekat pintu, tanda kecil bahwa rumah ini telah menjadi rumah bagi dua orang, bukan lagi satu.

"Pak Wirya mengirim pesan," kata Adam, menyeruput kopinya, "dia mengundang kita ke upacara peringatan setahun pembukaan resmi pusat penelitian. Katanya Dr. Wibisono juga akan datang, membawa istrinya, dan katanya Dr. Wastuti sudah dalam perjalanan dari kota sejak subuh tadi."

Rasa membaca ulang pesan itu di ponselnya, tersenyum membayangkan Pak Wirya yang kini menjadi semacam tokoh sentral desa, dipercaya warga untuk mengurus hampir semua hal terkait fasilitas maupun urusan desa lainnya, jauh dari sosok yang dulu gemetar ketakutan setiap kali menyebut nama Bukit Ler.

Mereka berjalan bersama menuju balai desa sore itu, melewati jalan yang sudah begitu akrab, disapa warga yang mereka temui di sepanjang jalan dengan senyum hangat, bukan lagi tatapan curiga atau ketakutan seperti dulu. Ibu Sarni melambai dari halaman rumahnya yang kini dipenuhi tanaman bunga yang ia rawat dengan penuh cinta, sebuah tanda kecil bahwa hidup, meski pernah begitu rapuh, selalu menemukan caranya sendiri untuk kembali tumbuh. Bu Tini berdiri di depan warungnya yang kini ramai, melambaikan tangan sambil berteriak bahwa ia akan membawa kopi gratis untuk semua orang di upacara nanti.

Lihat selengkapnya