Epiphany - Cinta Atau Dendam

ken fauzy
Chapter #11

Berdiri Di Hadapan Pembunuh Ibu

Ayah Andini tersenyum mengetahui itu semua. Ia berbahagia melihat anak perempuan kesayangannya ini sekarang lebih banyak tertawa dan gembira. Tidak seperti hari-hari kemarin yang selalu terlihat begitu murung dan tergayuti mendung. Ia tahu cinta sedang tumbuh di hati putrinya. Ia pun yakin istrinya pasti akan senang melihat putrinya yang dari wajahnya kini memancarkan cinta yang berseri-seri. Ia pandangi foto istrinya lalu ia sentuh dengan ujung jarinya lembut.

Hari-hari dilalui dengan hati yang semangat, sumringah dan senang. Danar sudah tidak malu-malu lagi menunjukkan kedekatannya dengan Andini di lingkungan rumah sakit, meski Andini masih terlihat canggung. Dan yang paling bahagia mendengar kabar kedekatan itu adalah, tentu saja, Bu Rosa. Ia bahkan mewanti-wanti pada Danar dan Andini untuk jangan lupa kirim-kirim undangan, sesaat sebelum ia pulang ke rumah dijemput putra putrinya.

Danar mengangguk berjanji sedang Andini menggeleng belum pasti. Bu Rosa tertawa dan mereka berpelukan bertiga untuk terakhir kali.

Sekarang, makin tidak terasa lagi saat-saat lelah yang menyita waktu dan energi sehabis shift malam ataupun operasi. Kurang tidur ataupun kelelahan, mereka sikapi dengan cara saling menguatkan dan memberikan dorongan semangat dan bila lelahnya sudah kelewat berat, mereka akan bercanda agar tertawa bisa jadi obat penyegar diri.

Cinta mereka bukan cinta manja yang dipenuhi puisi-puisi puitis, cinta mereka jauh dari kata-kata saling merayu, bukan rindu-rindu yang dihabiskan di ruang-ruang café atau dengan makan malam berlilin yang manis. Cinta mereka tidak mendayu bagai pecandu senja saat duduk berdua di kala hari merayap jingga. Tidak juga menikmati music-musik romantis dengan lisan yang bersajak mengundang seribu puja puji.

Cinta mereka menitik di antara bau anestesi, menyeruak di antara ruang-ruang operasi, rawat inap dan dari lelah yang tak terkira setelah berdiri berjam-jam menyelamatkan nyawa orang. Rindu mereka menyergap dan masuk ke dalam kalbu di genggam jemari yang penuh bercak darah sehabis bedah meski tidak sempat mengatakan, ‘aku rindu’. Bahagia mereka tumbuh dan berkembang dengan terselamatkannya satu nyawa setiap harinya.

 

***

 

Hujan turun deras.

Lihat selengkapnya