Equivocal - We Spell LOVE, T.I.M.E.

Miss Bebeklucu
Chapter #3

Pilihan

Pilihan sarapan Rai tiap pagi adalah TIDAK MEMAKAN MASAKAN BUATAN DIARA. Jadi, yang dilakukan tiap pagi di rumah adalah meniadakan jadwal sarapan. Rai akan berpakaian rapi, minum satu botol air mineral kemasan ukuran 500 mili, lalu berangkat ke kantor. Ah, jangan lupakan satu adegan sebelum Rai masuk mobil. Dia mengulurkan tangannya untuk kucium dan mengecup cepat keningku. Bagian formalitas di depan sopir pribadinya.

Sudah, begitu saja.

Aku akan memulai hari dengan membuka email. Pagi ini ada dua email tawaran endorse. Clothing line baru dan paket perawatan salon ala Korea. Jemariku berkelana, mengetik merek clothing line pada kolom pencarian safari.

"Not bad," gumamku dengan kaki melangkah menuju meja makan yang kosong. Duduk di meja terujung, mataku kembali menjelajah produk-produk keluaran brand Magnum Fever yang meminta jasa endorse.

Begini pekerjaanku menjadi beauty blogger, menulis artikel mengenai produk kecantikan, salon, klinik kecantikan, dan fashion wanita. Melalui jasa endorse dan review produk dan jasa, aku menerima penghasilan. Memang nggak sebesar gaji per bulan Rai tapi aku berani jamin, kalau orang mengetik namaku di internet, akan nongol lima puluh kali lipat hasil pencarian tentangku, dibandingkan Raihan Maheswara Argaditya yang menjabat CEO PT Laksana Dwipada.

Profesi yang aku rintis dari hobi sharing hasil pemakaian produk kecantikan merek anu dan anu di blog, lalu menjadi lahan penghasilan jutaan rupiah per bulan. Bukan dalam waktu sekejap seperti selebgram zaman now. Blog zaman dulu nggak menjaring massa sehebat Instagram yang punya akses di explore. Sekarang aku mulai pakai Instagram untuk menunjang usaha beauty blogger, mengikuti saran seorang teman.

"Aah, teman, aku nggak punya teman buat sarapan. Selain pacar bayaran, ada jasa teman makan nggak, ya?" Aku menopang dagu pada telapak tangan kiri. Jemari kanan mengetuk meja dengan bosan. Begini rutinitas di rumah, sendirian. Pekerja rumah tangga datang tiap jam delapan sampai jam lima sore. Sopir tergantung kebutuhan. Kalau butuh pagi, ya, dia datang pagi. Kalau nggak butuh, ya, dia datang normal seperti pekerja rumah tangga.

"Ganggu Arvel saja," kataku pada ponsel. Adik ipar satu itu memang paling bisa diandalkan, datang tiap dibutuhkan dan pergi saat diusir. Jelangkung banget.

Pesan singkat aku ketik untuk Arvel. Nggak perlu tunggu balasan, aku langsung masuk ke dapur. Mari piknik, Di!

Me:

Vel, makan pancake, yuk!

๑๑๑๑๑

Mobil yang mengantarku mengantri masuk lobi drop-off gedung perkantoran berwarna hijau emerald. Sudah lewat jam masuk kerja, belum masuk jam makan siang, dan kantor ini masih saja lambat dalam pengaturan mobil masuk-keluar. Aku berdecak sebal, nggak sabar mau bertemu Arvel. Tantan, pria muda yang menjadi sopirku sejak enam bulan terakhir melirik lewat spion tengah.

"Sabar, Bu. Namanya Jakarta, wajib macet. Kalau nggak macet, bisa hilang kerjaan juru parkir, sekuriti, polisi-"

"Sst, berisik!" Aku melirik sinis Tantan yang malah nyengir lebar. Sopir satu ini pasti diterima atas hasutan Arvel ke Mami Yulia, mertuaku. Kemampuan bibirnya berkicau sebelas-dua belas Arvel.

Lihat selengkapnya