Tidak ada sepatah kata pun terucap dari bibir pucat Diara. Kamar yang gelap menambah kedukaan. Diaz diam di pojok ruangan, bersandar pada dinding dan melipat tangan di depan dada. Satu-satunya suara yang timbul berasal dari ponsel yang berada di atas kasur, dekat Diara.
"Angkat?" Diaz akhirnya membuka suara.
Diara melirik Diaz tanpa minat. Ponsel itu sudah berdering sejak lima belas menit yang lalu. Maunya Diara adalah melempar benda pipih itu dari lantai dua kamarnya. Tapi Diaz di sini, pria itu akan melarangnya.
"Katakan kenapa kamu menolak menjawab telepon itu," pinta Diaz. Kakinya melangkah perlahan mendekati kasur. Matanya tetap melekat pada layar ponsel yang menampilkan nomor asing.
Diara menolak menjawab kebingungan Diaz. Sudah cukup kepalanya membengkak atas semua kejadian berengsek sepuluh hari yang lalu, jangan lagi abangnya merecoki dengan pertanyaan yang tidak ingin dijawabnya.
"Apa itu Raihan?" Sorot Diaz menuding tajam, bertepatan Diara menatapnya datar.
Diamnya Diara makin menguatkan dugaan Diaz. Sepuluh hari, waktu yang cepat mengubah seluruh struktur kebahagiaan yang mereka bangun. Dan Diara sebagai aktris penghancur semua kestabilan masih bertahan mengunci rapat bibirnya.
"Diara, tolong jawab Kakak. Apa itu Raihan?" Diaz makin mendesak dan tidak sabaran.
"Kakak pergi ke kantor saja. Urus masalah yang dibuat Ayah. Aku yang akan urus masalahku," kata Diara dingin.
"Urus masalah kamu? Bagaimana? Menolak tanggung jawab pria berengsek yang sudah meniduri kamu?" cecar Diaz penuh amarah.
Diara kesal. Itu penyebab sikap diamnya. Hubungannya dan Gemmy hancur, ayahnya mengurung diri di kamar, perusahaan yang dibangun atas jerih payah ayah dan almarhum bundanya di ujung tanduk, kini... melengkapi semuanya, Diaz menguak 'the incident'.
"Berengsek," desis Diara. Dia mengambil ponsel itu, menekan logo hijau lalu mengangsurkan pada Diaz. "Bilang apapun yang Kakak mau."
Diaz menerima ponsel itu ragu. Dia menarik napas sambil menatap luka dan kecewa pada sorot mata Diara yang biasanya jernih dan ceria. Ponsel itu ditempelkan pada telinga kiri Diaz tanpa melepas kontak mata dengan si adik.
"Halo, ini gue Diaz. Kalau mau bicara, datang ke sini," kata Diaz tegas. Tangannya lunglai ke sisi badan, masih menggenggam ponsel adiknya. Jika mata benar bisa berbicara, dia ingin bisa membongkar semua isi dalam kepala Diara dan mendapatkan kebenaran atas kejadian 'malam itu' yang masih menjadi misteri besar baginya. Ratusan kali usaha, Diaz hanya akan sampai pada jurang kepahitan. Diara tidur bersama Raihan, kakak Gemmy.