Kemeriahan prosesi akad yang biasa digelar sama sekali tak nampak dalam ruangan itu. Penghulu menghela napas letih. Mempelai pria di hadapannya menekuk mukanya sepanjang pembacaan doa usai ijab kabul. Mempelai wanita tidak kalah mengenaskan. Bukan atas airmata, melainkan sorot pilu yang mengawang pada kertas putih di atas meja serta sepasang buku kecil.
Apa-apaan pernikahan ini, pikir si penghulu. Namun pikirannya terputus ketika keluarga kedua mempelai menyambutnya baik. Ini bukan kali pertama si penghulu memimpin pernikahan tanpa dasar cinta, jadi yang bisa dilakukan bapak tua berpeci hitam itu hanyalah berdoa, semoga Tuhan memberkahi kebaikan dalam pernikahan ini.
Diara bukannya menolak berada di tengah ruangan, sejak dua minggu lalu, dia sudah membulatkan tekadnya. Apapun keputusan ayah, asal pria cinta pertamanya tidak lagi mengurung diri di kamar, Diara akan lakoni. Bahkan jika itu sama halnya menjebak diri sendiri dalam ikatan di bawah payung Tuhan dan Negara bersama Rai.
She's just a bitch back then. Dan Rai, kandidat terbaik menghancurkan kehidupannya.
Doa sudah selesai dilafalkan, para tetua meminta Rai dan Diara berpose untuk pertama kali sebagai pasangan suami-istri. Tipis, Diara mendengar suara decakan Rai. Pria itu menolak namun telah terikat.
Diara diam, menahan sendiri tikaman demi tikaman rasa bersalah dan berdosa karena telah menarik seseorang ke dalam lubang neraka. Dia tak bisa melepaskan Rai. Dia pun sama-sama tenggelam di sini sebagai pasangan jahat.
"Ayo, rapat sedikit," pinta Rakhmadi. Tangannya bergerak memberi kode pada Rai dan Diara. Malas-malasan Rai menggeser badannya. Kamera-kamera menjepret pose kaku mereka. Siapa pula yang sanggup tersenyum jika di ujung ruangan ada seseorang yang kau sakiti karena pernikahan ini. Gemmy menatap lekat mereka. Tiada ekspresi berarti kecuali mata yang berbicara dalam bungkam.
Diara merutuki dirinya masih berani hidup setelah membuat pria itu terluka. Bahkan bunuh diri masih terlalu bagus tuk menebus kesalahannya. Dia tidak mau tahu bagaimana Rai berani menatap wajah kaku Gemmy, yang dia harapkan pria di pojok ruangan itu pergi. Jangan bertahan di sini jika menyakitkan.
Demi Tuhan, Diara ingin berlari ke arah Gemmy, menarik pria itu keluar agar tidak perlu berlama-lama menyaksikan drama tolol pernikahannya. Semua hanya akting. Diara tahu keluarganya dan keluarga Rai hanya bersikap sopan merayakan pernikahan beralas penghianatan dan kekecewaan begini. Namun bisakah satu orang saja menolongnya, bawa Gemmy menjauh. Dia bisa melihat jelas tatapan cinta Gemmy untuknya. Siapalah Diara, sekejam apapun dirinya, Diara bisa melemah dan balas menatap cinta pada Gemmy.
Tidak! Gemmy bukan untuknya!
"He loves you," bisik Rai tiba-tiba.
Diara mendongak agar dapat menatap wajah datar Rai. Lalu beralih ke sosok di pojokan. "He deserves better, and not me." Diara membelah kumpulan orang yang tengah memotret dirinya dan Rai. Langkahnya anggun dan mantap menuju pria itu, mantan prianya. Semua mata mengawasi. Sebagian besar beranggapan Diara sosok yang kuat dan berpendirian, sekali dia memutuskan bersama Rai, maka Gemmy sudah lenyap dalam memori. Bersyukurlah pada rok batik berpotongan A-line yang menyapu lantai, kaki Diara yang bertransformasi menjadi jeli tidak diketahui orang lain. Tentu Diara takut. Sangat takut.
"Sudah memutuskan bagaimana mengucapkan selamat untukku dan Rai?" tanya Diara lembut. Matanya tidak perlu menyorot tajam Gemmy, kelembutannya sudah memukul kegigihan Gemmy tinggal di ruangan ini. Dia tahu itu. Mantan prianya gentar.
"Selamat," kata Gemmy, tidak berpaling dari mata jernih Diara. Pandangannya sarat akan kerinduan dan kebencian, komposisi yang ―tanpa diketahui Gemmyー telah menikam jantung Diara.