Equivocal - We Spell LOVE, T.I.M.E.

Miss Bebeklucu
Chapter #7

Menerima Takdir

Menerima takdir ban mobil kempes di tengah perjalanan pulang itu ME-NYE-BAL-KAN. Bukan soal bannya, melainkan siapa orang yang sedang berjongkok di samping mobilku.

"Bisa lebih bodoh lagi dari ini?" Lirikan menyebalkan Rai di tengah hari bolong membuat badanku yang gerah kepanasan jadi terbakar.

"Kalau nggak bisa ganti ban, bilang saja. Aku kan bisa panggil jasa servis mobil," balasku nggak kalah sengit.

Rai berdiri lalu membanting errr apa itu namanya alat yang bisa buka-tutup baut ban? Ya, alat itulah pokoknya. Wajahnya geram, kalau bukan di pinggir jalan, aku yakin dia bakal teriak ngomel-ngomel kayak yang biasa dia lakukan di rumah.

"Bereskan!" desisnya sinis.

Demi Kolor Ijo yang takut sama daun kelor, Rai ini bibir dan matanya lebih pedas dari sambal bakso. Masak aku disuruh merapikan peralatan ganti ban sendirian. Dasar perkutut setan! Rai mendelik, kode menyuruhku segera beres-beres. 

Malas-malasan aku memunguti peralatan yang tadi dia pakai mengganti ban. Sesebapak CEO kita bersama asyik main mobile legend sambil bersandar pada pintu pengemudi. Bibirku sudah nggak jelas maju berapa senti. Kendaraan bermotor juga nggak banyak berlalu-lalang di jalanan kompleks. Rai tambah merdeka menunjukkan caling drakula.

"Sudah!" teriakku kesal. Padahal tadi aku menghubungi Arvel biar dijemput, malah pria judes ini yang datang. Awalnya aku girang, dia datang bersama sopir pribadinya. Eh, dengan santai dia suruh si sopir pulang. Terus dia ngomel setengah jam. Pas mau ganti ban, ngomel lagi. Selesai ganti ban, begini nasibku.

"Sini kunci mobilnya," perintahnya lagi usai mengantongi ponsel.

"Nggak!" Aku melindungi saku celana kananku menggunakan kedua tangan.

"Apa maksudnya?"

"Kamu punya potensi ninggalin aku sendirian di sini. Aku yang kendarai!"

"Terus bikin ban bocor lagi?"

Setan alas, ck!

"Nggak lah!"

"Sini cepat."

"NO!"

Rai menangkap badanku yang mau kabur. Lengan kirinya menahan perutku, sementara tangan kanannya berusaha merogoh saku celanaku. Jangan harap aku akan sukarela membiarkannya mendapat apa yang diinginkan. Aku tepis tangannya. Aku terkungkung, punggungku ditahan dadanya, perutku dikurung lengannya. Kakiku melangkah nggak tentu arah, yang penting Rai mau mengalah. Sesekali lengan kirinya yang melingkari perutku menarik badanku merapat padanya. Alhasil, punggungku menubruk dadanya. Pantatku berusaha mendorong badannya, lagi lengannya menarik badanku. Kami terus berebut kunci di saku celana. Aku berhasil meraih kunci, kedua tanganku menumpu pada badan mobil agar pantatku kuat mendorong Rai. Balik lagi, dia menarik badanku.

"Woi, doggy style jangan di pinggir jalan!"

Aku dan Rai membeku. Jalanan yang tadi lowong mendadak ramai. Beberapa pengendara motor berhenti di dekat mobilku. Bahkan ada gerobak bakso.

Apa-apaan ini?

Lihat selengkapnya