Aku ... tambah kamu ... jadi kita.
Aku menggigit bibir bawah membaca kata-kata ini pada salah satu foto di explore instagram. Mengindahkan beban, aku scroll naik, niatnya mau mencari inspirasi malah berakhir nestapa. Sederet foto artis memamerkan relationship goal dan foto bayi mereka. Jempolku menekan satu foto, bayi Shireen Sungkar. Cantiknya.
Ou, Diara stop daydreaming!
Aku tutup aplikasi instagram. Beralih ke safari. Jemariku bak kesurupan, mengetik kata sesuka hati. Hingga mataku tiba pada deretan artikel online mengenai prosedur inseminasi buatan.
Sudah nggak bisa ditahan. Aku tiga puluh satu tahun, mau umur berapa aku memiliki anak. Gege dan Ratu sudah memiliki Fatih yang lucu. Teman-temanku ーatau yang bisa aku sebut, kenalanー selalu upload foto kebersamaan bersama anak. Dan aku?
Kali ini aku akan mengambil langkah. Rai, tetap di tempat kamu! Aku siap kasih kejutan. Jemariku menekan ikon telepon pada nomor kontak Rai. Menunggu beberapa saat sampai panggilan itu diterima.
"Halo," sapaan Rai di seberang jaringan telepon.
"Hai, Rai," sapaku balik. Aku deg-degan, perempuan lain bisa santai meminta anak pada pasangan mereka. Aku dan Rai, beda cerita.
"Kamu punya sepuluh detik kalau mau bicara."
"A-aku, anu, aku-"
"Di, waktu kamu berjalan. Jangan buang-buang waktu untuk akting gagap," sembur Rai tanpa indikasi dia melemparkan lelucon. Nada Suaranya datar.
"Aku mau kita inseminasi buatan," kataku cepat, melawan laju jantung yang mau lepas. Jika aku punya sepuluh detik, aku harap waktuku belum habis demi sederet kata menegangkan barusan.
Hening berganti suara desah napas Rai. Seharusnya aku pakai video call jadi bisa lihat respons Rai. "Kamu pikir saya impoten? Jangan bahas lagi, kita akan jalani hubungan kita dan menunggu anak dengan sabar."
"Ta-"
Panggilan terputus. Rai mencegah topik anak berkembang dalam rumah tangga kami. Aku mengambil buku jurnal di dalam laci nakas. Tanganku membuka satu per satu halaman awal yang berupa kalender hingga sampai di bulan ini. Ada beberapa tanggal yang aku beri tanda love berwarna pink, tanggal aku dan Rai berhubungan badan. Tanggal yang jauh dari siklus suburku.
Setan alas, umpat hatiku.
Aku memeluk buku jurnalku. Mataku sudah panas, beberapa tetes airmata luruh ke pipi. Tanpa sengaja satu lembar foto jatuh ke pangkuanku. Aku lupa foto apa itu. Saat aku balik posisinya, hatiku terhenyak. Foto Rai yang tersenyum menatap kamera. Hartaku yang pertama dalam rumah tangga ini.
"CEO iblis!" Foto itu merapat pada bibirku. Aku mengecupnya, mengecup Rai yang pernah tersenyum luwes sebelum pernikahan kami. Rai yang pernah menjadi malaikatku.
※※※※※
"Hoi!"
Aku menyesal membukakan pintu untuk tamu tak diundang pulang tak diantar satu ini. Bibirku maju nggak senang.