Di sini, tempat pertama kalinya Diara menyadari kekuatan takdir. Waktu itu, dia masih berusia delapan belas, duduk sendirian di dekat jendela kafe yang menghadap jalan sambil menikmati cokelat panas. Lalu pria itu lewat, berjalan santai membawa banyak balon berwarna biru. Ketika seorang anak berpapasan dengan pria itu, dengan ramahnya si pria memberikan satu balon. Diara tersenyum mengamati aktivitas di balik kaca jendela. Tiba-tiba pria itu menoleh padanya, pria itu menunjuk balon-balon seolah bertanya, 'mau balon?'. Diara menggeleng, masih memajang senyumannya. Si pria mengendik lalu pergi dari situ.
Beberapa bulan kemudian, Diara kembali bertemu pria itu, dikenalkan sebagai kakak dari kekasihnya. Tujuh tahun kemudian, permainan takdir bergerak di luar batasan, pria itu yang mengucap namanya di hadapan penghulu.
Mengulang kejadian tujuh tahun lalu, Diara duduk di kursi yang sama. Bedanya, pria itu tidak berada di balik kaca jendela. Melainkan di seberang mejanya, menyesap kopi dalam gerak anggun yang menyerap sebagian besar atensi perempuan di kafe.
"Mau apa mengajakku ke sini?" Tanya Diara. Wajahnya datar menatap sang suami.
"Aku mau ajak kamu melihat 'rumah kita'. Agak kurang nyaman mengajak kamu di rumah, karena itu aku ajak kamu ke sini," jawab Rai sama datarnya.
Rumah kita.
Diara mengembuskan napas letih. Sudah sebulan mereka menjalani pernikahan, bukannya kemajuan malah kemunduran hubungan yang tercipta. Sebelumnya, Diara akrab dengan Rai. Tujuh tahun lamanya mereka saling kenal. Namun tujuh tahun bukan jaminan sebuah hubungan baik akan langgeng seumur hidup.
"Kamu bilang rumah itu belum ada." Diara ingat kebohongan Rai saat makan malam. Kebohongan yang tanpa disangka demi melindungi perasaan Gemmy, usaha seorang kakak untuk adiknya. Meski bukan melalui jalan yang indah. Tetap saja, berhasil menyebabkan Diara menjadi tokoh jahat hingga hari ini.
"Ada beberapa pilihan. Kebetulan ada townhouse baru dibangun di Pejaten. Aku mau ajak kamu melihat-lihat. Bangunan minimalis. Kamar tidurnya cukup banyak..." Rai tidak lagi meneruskan kalimatnya. Penyesalan melingkupi gestur badannya tatkala air muka Diara berubah pias.
Kamar tidurnya banyak ... apa itu maksudnya ... mereka akan tidur terpisah? Diara tidak bisa menutupi kekecewaan akan tebakannya sendiri. Memang dia belum memiliki rasa terhadap Rai, kendati tanpa cinta, membayangkan tidur terpisah dari suami serupa halnya menginjak harkatnya sebagai istri. Diara bukan pemimpi yang akan menjaga tubuhnya tanpa sentuhan suami yang tidak dia cintai. Mustahil alasan ingin kembali kepada Gemmy melandasi sikap durhakanya pada Rai. Memang sesekali timbul kerinduan ingin kembali menjalin kasih bersama Gemmy. Namun siapa dia? Hanya perempuan penghianat yang pantas dibuang. Gemmy tidak pantas mendapatkan Diara yang rusak. Dan Diara semestinya menjadi istri terpuji bagi Rai.
Jika Rai dan Diara tidur terpisah, seumur hidup Diara akan menjadi istri dalam kertas.
"Kamar tidurnya..." Mata Rai bergerak liar ke sana ke mari. "Eum, kita bisa ajak Arvel menginap," cetus Rai dengan gaya bersemangat yang dibuat-buat.