Bersama Rai menghabiskan akhir pekan di rumah SAMA DENGAN bekerja lembur tanpa upah. Aku harusnya lebih gesit kabur saat menemukan gelagat Rai berdiri di dekat kitchen stool. Sangat nggak mungkin sesebapak CEO kita bersama merengek sarapan.
Setelah merengutkan wajah sampai tiga jam kemudian pun, Rai tetap memaksaku memeriksa penyebab banyaknya tenant yang keluar. Dia kira aku cenayang? Penerus Mama Lauren? Murid Ki Joko Bodo? Mana aku tahu!
"Kita kehilangan sembilan tenant dalam tiga bulan," keluh Rai sambil menyisir rambutnya menggunakan tangan.
Aku menggigit bibir bawahku menahan gemas. Akhir pekan pun dia gunakan untuk bekerja. Setan alas, harusnya aku memanjakan kulit dengan masker alami. Bukannya memelototi bagan aneh begini.
"Bisakah kita bahas penyebab tenant lama keluar?" tawarku yang jengah pada beragam kontrak sewa unit kantor. Tiap katanya menimbulkan mual. Rai mendelik nggak terima. "Please, Rai, lebih baik kamu cari cara mendapatkan tenant baru. Tenant yang keluar sama dengan konsumen nggak loyal, buat apa dipikirkan."
"Kita bisa membuat perbaikan seandainya ada alasan kepindahan mereka." Rai masih berkeras menyuruhku meneliti kontrak.
Lubang hidungku pasti megar, kebiasaan tiap aku mau meledak. Tahan ledakan, Rai bukan lawan tanding main perang terbuka begitu. Mari pikirkan satu set brush Chanel Les Pinceaux dan blush on Milani Rose. Kombinasi tepat untuk mempercantik diriku saat jalan sore. Pasti menyenangkan jalan sore dan menikmati satu porsi tahu gejrot. Arvel akan jadi teman jalan sempurna. Great, Diara, sekarang waktunya cari ide melepaskan diri dari leluhur iblis di hadapanku.
Think, Di!
Think something!
Ayo! Mikir, Di! Pikirkan apapun dan bebas dari sesebapak.
"Start-up company!" seruku luar biasa bahagia.
"Hah?" Rai melirik dari balik kacamata baca yang membingkai pas wajah. Figur rupawan begini menyimpan satu batalyon setan dalam raganya, jangan sampai termakan kebusukan senyum Rai.
"Bagaimana jika target tenant perusahaan ditujukan bagi start-up company?"
Satu alis Rai naik. Dia meletakan berkas dalam genggamannya ke atas meja lalu menyatukan tangannya. Gestur badannya jika akan serius menyimak.
"Teruskan," perintah Rai.