Pernikahan yang diimpikan setiap wanita―termasuk Diara di masa lalu―merupakan gerbang kesepian dalam garis kehidupan Diara. Sekalipun berbagi ranjang, Diara tak merasakan ditemani. Meskipun makan bersama, yang terjadi malah kesenyapan meliputi meja. Walau berjalan bergandengan, selalu ada kekosongan di sisi.
Sekeras apapun Diara menekan ego agar menjadi pelatuk dalam hubungan pernikahan, tetapi hatinya berkhianat. Rai membangun pembatas tinggi yang memenjara hatinya, membuatnya jatuh sekaligus terluka. Karena sikap menghindar Rai lebih menyakitkan dibanding penolakan langsung.
Diara menyandarkan dirinya pada sofa yang menghadap taman belakang rumah. Menatap tanpa gairah. Baru saja dia bertemu Ratu, perempuan yang semestinya menjadi tunangan Rai.
Ketakutan Diara membengkak saat melihat betapa manisnya Ratu, sosok yang mampu membuat binar mata Rai kembali. Sementara dirinya adalah sosok yang mematikan binar indah dalam manik kelam Rai. Sebuah ironi besar yang memantik ketakutan dalam hati Diara.
Dia cemas suaminya jatuh cinta pada perempuan seceria Ratu.
Meski kabar Gemmy yang akan menikahi Ratu sebagai pengganti Rai telah terkemuka, tetap saja perasaan kalut ini merajai pikiran dan hati. Sebab bagaimanapun, Diara akui hatinya pelan-pelan terpatri nama baru, menggantikan mantan kekasihnya.
"Kamu belum tidur?"
Diara berpaling pada sumber suara. Raihan berdiri beberapa langkah di belakang sofa, masih mengenakan pakaian kerja lengkap dengan satu tas laptop dalam genggaman.
"Nunggu kamu," jawab Diara sambil berdiri lalu mendekati Raihan. Dia mengambil alih tas Raihan, kebiasaan yang sudah dia lakoni selama satu tahun pernikahan mereka.
"Kenapa menungguku?" tanya Raihan datar.
"Aku coba masakan baru. Mungkin kamu bisa bantu aku mencicipi. Besok mau aku antar ke mami." Ini ide yang dia dapat dari Arvel beberapa hari lalu.
"Kak Ratu disukain banget sama mami soalnya pintar bikin puding," kata Arvel.
Jika Ratu bisa mendapatkan hati Yulia, mengapa Diara tidak bisa. Ini bukan tentang kecemburuan akan siapa menantu yang lebih disukai mertua, Diara ingin menarik perhatian Yulia agar Raihan menatapnya―lebih lama.
"Untuk apa membawakan mami makanan?" Raihan bertanya sambil mendahului ke kamar mereka di lantai dua.
Diara mengetatkan genggamannya pada tas sambil mengikuti langkah Raihan. "Sesekali membawakan masakan untuk mertua. Nggak apa-apa kan?"
Raihan berhenti di anak tangga terakhir, memutar badannya setengah hingga bisa menatap Diara. "Apa ini sebuah kebetulan, Di?" Raihan memicingkan sebelah mata, indikasi yang disadari Diara bahwa Raihan mencurigai sesuatu.
"Kebetulan? Kebetulan apa?" Diara bertanya dalam nada riang dan polos, menutupi luka akibat pertanyaan Raihan barusan.