Equivocal - We Spell LOVE, T.I.M.E.

Miss Bebeklucu
Chapter #13

Menantikan

Menantikan Rai selesai meeting bersama BOD sangat membosankan, apalagi jika aku dilarang mendekati Arvel. Alasan Rai selalu sama, aku membuat Arvel nggak fokus kerja. 

Aku berdecih kesal mengingat alasan paling nggak inovatif itu membatasi ruang gerakku bermain bersama Arvel. Dasar pria kaku, Arvel itu malah bisa mendapat banyak ide jika berdekatan denganku.

Memangnya siapa informan yang membantu Arvel membuat proposal penyedia tempat untuk acara Batik Jakarta? Jawabannya, aku. 

Lalu siapa yang jungkir balik menelusuri florist sekitar Jabodetabek hanya agar proyek vertical garden Arvel sukses? Aku lagi! 

Siapa pula yang dipaksa melobi beberapa selebritis saat green office champagne yang dipegang Arvel terlaksana? Jawabannya tetap sama, aku―Diara.

Kali ini aku akan membangkang Rai, mumpung masih jam kerja, aku akan naik ke atas dan mengajak Arvel makan di Sour Sally. Urusan omelan Rai, aku tangguhkan belakangan. 

Ketika lift yang aku naiki terbuka di lantai dua puluh, perutku terasa melilit menyaksikan keakraban Rai dan Jossy―temanku masa SMA sekaligus karyawan di sini.

Niatan kabur gagal karena Jossy menemukan keberadaanku. Aku berjalan pelan-pelan mendekati mereka. Rai tampak terkejut akan kehadiranku lalu kembali normal dalam tiga detik. Nggak akan ada yang menyadari sikap Rai.

"Hai, Jossy," sapaku, agak memaksakan suara terdengar riang.

"Hai," balas Jossy lemah.

Aku tersenyum maklum. Sikapnya sangat wajar sebagai perempuan yang memiliki rasa kepada Rai. Sebagai sesama wanita, aku sudah mengetahui perasaan Jossy sejak lama. Dia mungkin bisa mengelabui orang-orang tapi aku paham makna gestur dan tatapan Jossy yang memuja Rai. 

Aku menyayangkan pria yang ditaksir Jossy. Mesti banget sesebapak maniak kerja? Ckckck. 

"Aku mau makan di luar bareng Jo. Ikut yuk," kata Rai.

"Tumben hanya berdua," balasku. Sebenarnya aku nggak nyaman tahu Rai berduaan Jossy. Bukan akibat Jossy mempunyai peluang menarik perhatian Rai. Lebih pada keraguanku pada Rai. Pria itu tetap pria, insting kucing liar bisa kambuh. Mau di rumah ada ikan tuna segar, ketemu ikan tongkol di pinggir jalan pasti dilahap juga.

"Kami mau merayakan farewell Jossy," balas Rai.

"Farewell?" Aku menatap Rai lalu pindah pada Jossy yang diam. Sangat disayangkan talenta sebagus Jossy harus keluar dari kantor. Aku kan tahu kinerja pekerja di sini. FYI, aku membaca 90% berkas yang sampai ke meja Rai, tentu aku tahu siapa-siapa yang berpotensi memajukan perusahaan.

"Kenapa pindah?" tanyaku pada Jossy.

Lihat selengkapnya