Diara menyisir ruangan besar tempat dilaksanakan pesta resepsi pernikahan Gemmy dan Ratu. Tamu undangan yang mengantri menjabat tangan mempelai lebih dari seribu orang. Jumlah fantastis sekaligus miris jika disandingkan pernikahannya dan Rai yang sangat sederhana.
Don't be jealous, pikir Diara. Namun badannya tidak bisa mengingkari gejolak emosional yang hadir. Diara wanita biasa dengan pemikiran sederhana, pesta bagai puteri dongeng dalam sehari merupakan satu dari impian kecilnya.
"Kak Diara mau zuppa?" Pertanyaan Arvel, adik iparnya menarik Diara dari lamunan.
"Masih kenyang, Vel," tolak Diara. Lalu dia berpikir ulang, menolak tawaran Arvel sama saja membuatnya makin mengenaskan dengan berputar sendirian dalam pesta. Dia tak ingin sendiri. Raihan telah menghilang setengah jam lalu menggunakan alasan bertemu klien. "Aku makan puding saja," lanjutnya yang merasa menempeli Arvel lebih menguntungkan.
"Ayo kita ambil."
Mereka berdua menyusuri meja prasmanan yang dikhususkan untuk camilan seperti puding dan buah. Diara mengambil sepotong puding tanpa vla dan mengambilkan dua potong puding dengan ekstra vla untuk Arvel.
Kemudian Arvel meminta Diara menunggu dekat pilar karena Arvel mengambil zuppa soup yang mejanya laris oleh antrian. Diara menggenggam kedua piring puding sembari mengamati suasana pesta.
"Lo tahu kalo Gemmy dijodohin sama istrinya?"
Diara menangkap suara seorang perempuan di balik pilar. Dia ingin menoleh memastikan tetapi juga penasaran. Maka dia bertahan dalam posisi membelakangi perempuan itu.
"Gue kaget pas baca undangan, pasangannya Gemmy bukan Diara." Suara perempuan lain menimpali. Diara merapatkan mata menahan geram, dua orang perempuan ini pasti temannya atau teman Gemmy yang tahu kisah cinta mereka.
"Lagian Diara ganjen banget, sudah punya Gemmy masih saja mengejar Raihan. Kalau mau selingkuh, cari pria tanpa ikatan saudara. Pasti aneh sekali bertemu mantan yang berstatus ipar," ucap perempuan pertama.
Diara mengetatkan genggaman pada kedua piring. Seenaknya saja menilai orang lain ganjen sebelum mengukur ketajaman bibir sendiri.
"Katanya Diara hamil sama Raihan, makanya mereka nikah."
"Oh, nggak heran."
Cukup! Diara telah sampai pada batas kesabaran. Dia berbalik dan menatap dua perempuan itu yang berjengit kaget. Dalam setiap langkah Diara menuju dua perempuan itu, satu per satu ketakutan menimpuk jantung. Diara takut. Dua perempuan itu tidak salah tetapi dua perempuan itu melanggar batasan privasi ketika pengetahuan tak sampai pada fakta. Diara tidak hamil, belum barangkali. Malam itu tidak menghasilkan apapun dalam rahimnya hingga pernikahannya dan Raihan lewat setahun lebih. Asal mau tahu, Diara bahkan belum pernah bersenggama bersama Rai setelah berstatus suami istri.
"Seru sekali obrolan kalian," sindir Diara. Dia tampak begitu tenang dan anggun, sangat lihai menyimpan kerut ketegangan di balik lehernya yang basah keringat dingin.
"Oh, hai, Di," sapa seorang perempuan yang dikenali suaranya sebagai perempuan pertama yang membicarakannya.
"Apa kabar, Riry?" sapa Diara lembut.
"Kamu kelihatan tambah gemuk," lanjut Diara tak memberi kesempatan perempuan bernama Riri menjawab sapaannya, "apa kamu melewatkan sesi slimming dokter Rahadi? Atau ada 'sesuatu' yang aku lewatkan?"
Riry memucat. Dia paham 'sesuatu' yang dikatakan Diara berkaitan dengan hubungannya dan kekasih. "Nggak ada 'sesuatu' yang terjadi," kilah Riry.
"Tapi aku dengar kamu ke dokter Sasa beberapa minggu lalu," ujar Diara. Wajahnya dipasang sedemikian kaget nan polos, menyelubungi permainan kata menikam yang dilontarkan. Diara tahu kedua perempuan ini adalah langganan dokter Sasa yang akan bermurah hati memberikan pil 'pertahanan', ungkapan untuk pil pencegah kehamilan. Dan memang beberapa minggu lalu Diara melihat sendiri Riry mengunjungi dokter Sasa yang lokasi praktiknya bersebelahan salon yang meng-endorse Diara.
"Itu hanya gosip." Riry tertawa sumbang di ujung kalimat. Kepanikan mengisi seluruh ekspresinya.